Warga Desa Adat Kelating sedang mengukir. (BP/bit)

TABANAN, BALIPOST.com – Sawah mengampar, pantai indah memesona. Itulah potensi besar yang dimiliki Desa Adat Kelating, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan.

Anugerah keindahan alam itu berupaya dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan krama desa melalui pembentukan Baga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) sesuai dengan amanat Pergub No.34/2019 tentang Tata Kelola Keuangan Desa Adat di Bali. Seperti apa Desa Adat Kelating mengelola potensi desa dan mengimplementasikan program Pemprov Bali melalui visi ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’ Mewujudkan Bali Era Baru?

Wisata alam dan budaya, sangat diminati wisatawan, terutama mancanegara. Peluang ini tak disia-siakan Desa Adat Kelating. Dengan memanfaatkan keindahan pantai dan sawah, pengembangan desa wisata terus dilakukan. Desa Adat Kelating pun membangun Baga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) dengan unit wahana wisata ATV. Menarik, pengelolaan wahana wisata ini diserahkan kepada generasi muda yang mau ngayah dan memiliki komitmen memajukan desa.

Bendesa Adat Kelating I Dewa Made Maharjana mengatakan, keberadaan BUPDA di Desa Kelating sesuai dengan amanat Pergub bahwa desa diharapkan mampu mengembangkan diri dalam bidang pariwisata, ekonomi dan SDM. ‘’Wahana wisata ATV ini bekerja sama dengan warga sebagai pemilik ATV dan adat sebagai pengelola. Pengelolaannya kami percayakan kepada generasi muda,’’ ujarnya, Kamis (30/1) lalu.

Baca juga:  Keterbukaan Informasi Publik, Hanya Tiga OPD Tabanan Raih Peringkat

Potensi wisata Desa Adat Kelating juga dilirik oleh investor untuk pengembangan objek wisata sky diving atau terjun payung. Pengembangan wisata ini masih dalam proses pengurusan izin prinsip. ‘’Konsep wisata budaya ini mendukung program pemerintah dan desa adat untuk dapat penghasilan dari desa dan berimplikasi pada pendapatan asli daerah (PAD) kabupaten dan penyerapan tenaga kerja,’’ terangnya.

Berdasarkan pengalaman investor yang telah mengembangkan wisata ini di Thailand, per satu tahun bisa mendatangkan 15-30 ribu orang wisatawan. Tentunya, wisata ini akan mengarah pada perkembangan turunan usaha ekonomi kreatif, seperti seni ukir, kuliner, garmen dan parkir.

Ke depan wisata yang sudah tergarap ini akan dipadukan dengan seni budaya yang dimiliki, seperti kesenian Tektekan dan Barong Calonarang, tari Legong lepas dan tari Wayang Wong. Di samping juga seni ukir dan usaha pembuatan banten. ‘’Banyak geria di sini yang mengoordinir dan ada kelompok banten. Kelompok banten ini diberdayakan untuk ekonomi kerakyatan. Sehari dua hari dibutuhkan, banten langsung ada. Bahkan sering ada pesanan dari luar,’’ terangnya.

Baca juga:  Desa Adat Yehembang Unggulkan Sektor Pertanian 

Di tengah upaya mengembangkan potensi wisata budaya ini tentu ada kekhawatiran adanya degradasi budaya Bali, karena adanya kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang membawa budaya masing-masing. Untuk mencegah agar budaya Bali tidak mudah terdegradasi, telah dikuatkan dengan pararem. Desa Adat Kelating tidak mengeluarkan izin pendirian bangunan perumahan serta pembangunan pasar modern. ‘’Kami sudah memiliki pararem untuk memperkuat desa adat. Jika desa adat sudah kenceng, kami mohon pemerintah di atas jangan kendur,’’ pungkasnya.

Program Pemerintah

Menjawab pertanyaan Wartawan Utama Bali Post Satria Naradha terkait program Pemprov Bali ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’, Bendesa Adat Kelating Dewa Made Maharjana mengatakan, pihaknya sudah mulai melaksanakan program pemerintah tersebut. Di antaranya dalam bidang palemahan, desa adat telah melaksanakan kegiatan gotong royong menjaga kebersihan lingkungan dari serbuan sampah, utamanya sampah plastik. ‘’Kami telah melaksanakan kegiatan Bali resik agar lingkungan tetap bersih dari sampah,’’ ujarnya saat kegiatan Sosialisasi Program Pemprov Bali ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’ Mewujudkan Bali Era Baru, di Wantilan Desa Adat Penarukan, Selasa (28/1) lalu.

Baca juga:  Jadwal PKB, Senin 17 Juni 2019

Demikian halnya program strategis Pemprov Bali untuk menggali dan mengembangkan kesenian wali, bebali dan balih-balihan, Desa Adat Kelating berupaya menghidupkan kesenian yang hampir punah. Desa Adat Kelating memiliki tari wali yang sudah tidak aktif lagi yakni Baris Gede.

Tari wali ini akan dibangkitkan lagi untuk melengkapi kegiatan upacara keagamaan pada tahun-tahun mendatang. ‘’Terkait tari wali yang punah ini kami sudah berkoordinasi tentang bagaimana tata caranya, apakah ke Dinas Pemajuan Masyarakat Adat atau Dinas Kebudayaan. Kami sudah inventarisir apa yang harus dilakukan,’’ terangnya.

Sementara dalam upaya meningkatkan kualitas dan melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dengan pembangunan PAUD/TK bernuansa Hindu, pihak desa adat akan berkolaborasi dan melakukan koordinasi dengan desa dinas. Sedangkan untuk kegiatan Bulan Bahasa Bali, sudah pula dikoordinasikan dengan sejumlah Sekolah Dasar di Desa Kelating. ‘’Sudah kami persiapkan. Tinggal action saja,’’ ucapnya. (Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN