Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde saat berkeliling mengunjungi stan pameran UKM di sela-sela pertemuan IMF-WB. (BP/edi)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pada 2020, ekonomi Bali diprediksi menguat menjadi 5,8 persen sampai 6,1 persen. Optimisme ini lebih tinggi dibandingkan 2019 yang pertumbuhan ekonomi Balinya diprediksi 5,6 persen – 5,9 persen.

Menurut Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan (BI KPw) Provinsi Bali, Trisno Nugroho, Kamis (12/12), optimisme ini bisa terwujud. Syaratnya, perbankan sebagai tulang punggung pembiayaan menyalurkan kredit lebih banyak agar ekonomi tumbuh lebih cepat

“Jadi ada optimisme di Bali ini lebih tinggi, dan angka 6 persen atau 5,9 persen itu termasuk salah satu yang terbaik di indonesia. Jadi optimis di Bali lebih baik dari provinsi lain,” katanya.

Baca juga:  Kasus COVID-19 di Bali Terus Bertambah, Kembali Capai Belasan dalam 24 Jam Terakhir

Perbankan diharapkan mampu menyalurkan kredit lebih besar tahun depan. Baik kepada UMKM dan pengusaha-pengusaha lain, agar ekonomi Bali bisa tumbuh lebih baik lagi.

Mengingat suku bunga sudah rendah. Ditambah sejumlah kebijakan yang melonggarkan perbankan seperti LTV maka tidak ada alasan pertumbuhan kredit perbankan tidak meningkat.

Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di Bali mencapai Rp 100 triliun. Penyaluran kreditnya sekitar Rp 80-Rp 90 triliun.

Baca juga:  Triwulan I, Serapan Belanja Modal Bali Masih Rendah

Sehingga masih ada space DPK di Bali itu bisa disalurkan pada UMKM dan masyarakat Bali. Jadi, mampu membuat ekonomi Bali bisa tumbuh lebih cepat. “Apalagi dengan kunjungan wisman yang tinggi, tentunya UMKM juga akan bergerak. Waktunya kita memberikan kredit pada masyarakat, sehingga tahun depan ekonomi Bali bisa tumbuh lebih tinggi,” pungkasnya.

Ia menyebutkan Presiden Joko Widodo dan Gubernur Bali Wayan Koster juga mengatakan, agar tidak wait and see, namun langsung eksekusi. Ia ingin masyarakat Bali dan pengusaha Bali bisa didorong oleh pembiayaan perbankan

Baca juga:  PDIP akan Usung Jokowi di Pilpres 2019

Selain itu juga masih banyak UMKM, pengusaha Bali yang memerlukan dana perbankan dan juga masih ada investasi – investasi seperti properti, pembangunan hotel di luar Badung dan Denpasar, yang juga memerlukan dana perbankan.

“Pastinya pengusaha juga ingin membangun sesuatu di Bali walaupun pasar properti masih stabil tapi minimal bisa terus didoronglah. Bagaimana pun juga, sumber pembiayaan dari perbankan,” tandasnya. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.