Jalan penghubung di Duda Utara kembali putus. (BP/istimewa)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Hujan yang terus mengguyur dalam beberapa hari terakhir membuat alur Tukad Panti di Kecamatan Selat, Karangasem kembali disapu banjir. Kondisi itu mengakibatkan badan jalan yang berada di alur sungai, di wilayah Desa Duda Utara, kembali putus.

Titik badan di alur sungai mati itu putus pasca erupsi Gunung Agung pada akhir tahun lalu. Agar bisa dilewati, warga Duda Utara sempat mengganti badan jalan dengan membangun jembatan bambu. Lantaran pondisi jembatan terus terkikis karena kontur tanah yang rapuh, sepekan yang lalu jembatan bambu itu diganti dengan pasir urug. Warga memilih menimbun alur sungai agar titik badan jalan itu bisa dilalui kendaraan roda empat.

Baca juga:  Hujan Seharian, Sejumlah Titik Terjadi Pohon Tumbang dan Banjir

Perbekel Duda Utara, I Wayan Darmadi, Selasa (7/8), mengakui sejak awal pengurugan alur sungai sangat riskan. Sejumlah warga juga sudah mengingatkan bahwa pasir urug yang dipakai menimbun sangat mungkin tergerus jika terjadi hujan lebat di daerah hulu. ‘’Dalam urugan sekitar empat meter. Hanyut ketika hujan,’’ jelasnya.

Pasca-putus lagi, praktis ruas jalan yang dipisahkan alur Tukad Panti itu putus. Padahal, ruas jalan tersebut merupakan jalan penghubung dua banjar yaitu Geriana Kangin dan Geriana Kauh.

Baca juga:  Pasca Kaburnya Empat Napi LP Kerobokan, Pengamanan Gilimanuk Diperketat

Sehari-harinya ruas jalan tersebut dipakai warga untuk akses menuju kebun dan akses menuju sekolah. Selain itu juga merupakan jalur alternatif menuju banjar-banjar sekitar seperti Sukaluwih di Desa Amerta Buana.

Meski ancaman banjir masih terbuka, Darmadi mengaku akan kembali mengurug badan jalan yang hilang itu. Langkah itu terpaksa ditempuh karena jika dipasang jembatan bambu akan jauh lebih beresiko dan memakan lebih banyak biaya.

Baca juga:  Diserahkan, Honda Forza ke 20 Pemesan Pertama

Selain itu pihaknya mengaku tak punya pilihan lain karena dana perbaikan dari pemerintah direncakan baru turun Tahun 2019 nanti. ‘’Ada yang usul pasang buis, tapi butuh biaya banyak. Lagipula kalau hanya dipasang begitu saja, buisnya pasti ikut hanyut jika ada banjir,’’ ungkapnya. (kmb/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *