Kepala Bidang PKH Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Jembrana, saat kegiatan pelayanan kesehatan hewan dalam upaya penanganan rabies di Jembrana. (BP/istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Kasus sapi mati akibat rabies kembali terjadi di Kabupaten Jembrana. Kali ini, kasus tersebut terjadi di wilayah timur Jembrana, tepatnya di Banjar Cepaka, Desa Pangyangan, Kecamatan Pekutatan. Dua ekor sapi digigit anjing dan satu di antaranya terkonfirmasi positif rabies berdasarkan hasil laboratorium.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, dari dua ekor sapi yang digigit, satu ekor dinyatakan positif rabies.

“Ya memang benar, ada sapi yang digigit anjing rabies di Desa Pangyangan. Digigit ada dua ekor dan yang positif rabies satu ekor,” katanya.

Ia mengungkapkan, kasus pertama terjadi pada Selasa (20/10). Bermula dari laporan seorang peternak sapi di Banjar Cepaka yang menelepon
dinas dan meminta pelayanan karena sapinya mengalami perubahan perilaku dan tampak sakit. “Agar cepat tertangani, petugas kami langsung meluncur ke lokasi pada pagi hari,” ucapnya.

Baca juga:  Tarian Janger dari Sanggar Seni Wredaya Muni Duta Kabupaten Badung Tampil Metaksu di PKB ke-47

Saat tiba di lokasi, lanjut Sugiarta, sapi tersebut menunjukkan perubahan perilaku. Dari mulutnya keluar air liur berlebihan seperti busa, dan sapi itu tampak agresif. “Ketika hendak didekati untuk diperiksa, sapi tersebut justru meloncat ke sungai, karena kandang sapi memang berada dekat sungai,” jelasnya.

Warga berusaha mencari sapi itu karena mengira masih hidup dan bisa diselamatkan. Namun saat ditemukan dan diangkat ke pinggir sungai, sapi berumur tiga bulan itu sudah dalam keadaan mati. “Karena sapi sudah mati, petugas meminta izin kepada pemiliknya untuk mengambil sampel dan langsung mengirim sampel tersebut ke Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar. Hasil uji laboratorium sampel itu ternyata positif rabies,” terangnya.

Sugiarta mengatakan, pihaknya tidak berani memprediksi apakah sapi itu digigit anjing atau bukan. Yang jelas, di sekitar lokasi terdapat banyak anjing liar, dan petugas medik veteriner melihat adanya anjing liar di sana. Belum jelas apakah anjing-anjing itu memang liar atau sengaja dibuang di wilayah tersebut, yang lokasinya dekat pantai dan dekat tambak.

Baca juga:  Usai Gigit Warga, Khawatir Rabies Anjing Dieliminasi

“Sebagai langkah lanjutan, kami akan menyisir anjing-anjing di sekitar wilayah itu, dan kegiatan penyisiran tersebut sudah berjalan. Di sana sebelumnya sudah melaksanakan vaksinasi sehingga anjing-anjing di daerah itu sudah tervaksin dengan cakupan mencapai sekitar 90 persen,” ungkapnya.

Karena anjing-anjing di sana sudah divaksin, kata Sugiarta, tindakan yang kemungkinan dilakukan adalah eliminasi selektif terhadap anjing-anjing liar. “Kami sudah berkoordinasi dengan Perbekel Pangyangan, yang menginginkan eliminasi anjing liar karena khawatir warganya yang banyak memelihara sapi dan beraktivitas di sekitar lokasi ikut digigit anjing liar,” ujarnya.

Surat terkait hal itu, lanjutnya, akan dikirimkan ke Tim Siaga Rabies untuk melakukan eliminasi anjing liar, dan tim akan menyusun jadwal pelaksanaannya.

Baca juga:  Disbud Ajak Seniman Ngayah Menghibur Pengungsi Gunung Agung

Sementara itu, kasus gigitan kedua terjadi di lokasi yang sama, pada Minggu (1/11). Sapi pada kasus kedua itu mati mendadak, dan sampelnya sudah diambil pada hari Minggu, tetapi belum dikirim. Sampel tersebut rencananya dititipkan melalui petugas BBVet yang datang ke Jembrana agar hasilnya cepat keluar.

Untuk kasus kedua ini, Sugiarta menegaskan pihaknya belum berani memastikan sapi itu rabies karena sampelnya belum ada hasilnya. Ia menambahkan, dinas sudah berunding dengan BBVet Denpasar yang memberitahu bahwa di wilayah lain di luar Bali terdapat kasus serupa di mana sapinya divaksin rabies.

Kemungkinan vaksinasi rabies pada sapi itu masih dikaji lebih dahulu. “Untuk penanganan rabies, kami dari dinas sudah siap siaga. Yang namanya kasus kami tidak bisa prediksi, apalagi dengan adanya anjing yang sengaja dibuang. Ini yang kami waspadai,” pungkasnya. (Surya Dharma/balipost)

 

BAGIKAN