Bangunan glamping Room 6 di Pelaga, Badung, hanyut diterjang longsor. Dua penghuni hilang, tim SAR dan K9 Polda Bali menyisir aliran sungai. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Memasuki awal November 2026, Provinsi Bali menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang perlu diwaspadai. Di tengah masa peralihan musim, potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah.

Namun, ancaman kekeringan meteorologis masih membayangi beberapa kecamatan, terutama di Kabupaten Buleleng, Bangli, dan Karangasem.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, baik yang dipicu hujan lebat maupun kondisi kering berkepanjangan.

Berdasarkan informasi peringatan dini cuaca dan iklim dari BMKG Wilayah III yang dirilis untuk dasarian I November 2026 atau periode 1–10 November, peluang hujan di Bali belum merata. Wilayah Bali bagian tengah berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.

Dalam gambaran cuaca 10 hari ke depan, pada 1–3 November terdapat potensi hujan ringan hingga lebat di Badung, Denpasar, Gianyar, Klungkung, Tabanan, Buleleng, Jembrana, Bangli, dan Karangasem.

Sementara itu, pada 4–6 November, potensi hujan ringan hingga sedang diprakirakan terjadi di seluruh kabupaten/kota tersebut. Kondisi serupa berlanjut pada 7–10 November, dengan potensi hujan ringan hingga sedang di Badung, Tabanan, Jembrana, Buleleng, Karangasem, Klungkung, Bangli, Gianyar, dan Denpasar.

Baca juga:  Hari Ini, Warga di Bali Terpapar COVID-19 Bertambah Hampir 250 Orang

Meski demikian, masyarakat di wilayah rawan tetap diminta memperhatikan perkembangan cuaca karena hujan lebat dapat memicu banjir, tanah longsor, dan peningkatan debit aliran sungai, terutama di kawasan yang memiliki kondisi geografis rentan.

Peringatan dini curah hujan tinggi periode 1–10 November 2026 juga menunjukkan sejumlah wilayah yang masuk kategori waspada. Di Kabupaten Tabanan, wilayah yang perlu diantisipasi meliputi Kecamatan Pupuan, Penebel, dan Baturiti. Di Kabupaten Badung, kewaspadaan ditujukan pada Kecamatan Petang.

Di Kabupaten Gianyar, wilayah yang masuk kategori waspada mencakup Kecamatan Payangan, Tegallalang, Tampaksiring, Ubud, Blahbatuh, dan Sukawati. Sementara itu, di Kabupaten Karangasem meliputi Kecamatan Rendang, Selat, Manggis, Karangasem, dan Sidemen. Di Kabupaten Bangli, wilayah yang perlu diwaspadai adalah Kecamatan Susut dan Tembuku.

Dalam peringatan dini tersebut, wilayah-wilayah itu masuk kategori waspada dengan potensi curah hujan 150–200 milimeter per dasarian. Tidak terdapat wilayah yang tercantum dalam kategori siaga dengan potensi 200–300 milimeter per dasarian maupun kategori awas dengan potensi di atas 300 milimeter per dasarian.

Baca juga:  Bandara Ngurah Rai Antisipasi Keterlambatan Penumpang Terdampak Banjir

Di sisi lain, ancaman kekeringan meteorologis masih menjadi perhatian. Peta peringatan dini BMKG untuk periode yang sama menunjukkan adanya wilayah berstatus awas di sejumlah kecamatan.

Di Kabupaten Buleleng, status awas berlaku untuk Kecamatan Gerokgak dan Tejakula. Di Kabupaten Bangli, status tersebut mencakup Kecamatan Kintamani. Sementara itu, di Kabupaten Karangasem meliputi Kecamatan Kubu dan Karangasem.

Selain itu, status siaga kekeringan tercatat di Kecamatan Banjar, Sawan, dan Kubutambahan di Kabupaten Buleleng.

Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi hujan pada awal November belum serta-merta mengakhiri ancaman kekeringan di seluruh wilayah Bali. Karena itu, pengelolaan air dan kesiapsiagaan menghadapi perubahan cuaca tetap diperlukan.

Kalaksa BPBD Provinsi Bali, I Gede Teja, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana akibat perubahan kondisi cuaca. Langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini, baik untuk mengurangi risiko banjir dan longsor saat hujan maupun mencegah dampak kekeringan.

Masyarakat diimbau menghemat penggunaan air, khususnya di wilayah yang masih mengalami kekeringan. Warga juga diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membakar lahan dan sampah serta membuang puntung rokok sembarangan.

Baca juga:  Tahura Ngurah Rai Paling Terancam

Menghadapi potensi hujan, masyarakat diharapkan menjaga saluran air dan selokan tetap bersih dari sampah agar aliran air tidak tersumbat. Warga yang tinggal di kawasan rawan banjir dan longsor juga perlu memantau kondisi lingkungan serta meningkatkan kewaspadaan ketika hujan berlangsung dengan intensitas tinggi.

Selain itu, masyarakat diingatkan mencabut peralatan listrik yang tidak digunakan dan mematikan dupa saat meninggalkan rumah untuk mengurangi risiko kebakaran. Menjaga daya tahan tubuh melalui konsumsi makanan bergizi dan istirahat cukup juga menjadi bagian dari langkah antisipasi.

Gede Teja mengajak masyarakat terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG maupun BPBD. Informasi tersebut penting sebagai dasar untuk mengambil langkah antisipatif sesuai kondisi wilayah masing-masing.

“Dengan kondisi cuaca yang masih berfluktuasi pada masa peralihan musim, kesiapsiagaan masyarakat dan koordinasi lintas sektor menjadi kunci untuk meminimalkan risiko bencana di Bali,” pesannya, Senin (2/11). (Ketut Winata/balippst)

BAGIKAN