
SINGASANA, BALIPOST.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tabanan mengusulkan pemasangan alarm pendeteksi banjir di tiga titik rawan banjir pada tahun 2027. Pemasangan alat tersebut ditujukan untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat ketika debit air sungai meningkat akibat curah hujan tinggi. Tiga lokasi yang diusulkan, yakni kawasan Sanggulan di Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, aliran sungai di Desa Kuwum, Kecamatan Marga, serta kawasan Perumahan Batu Sangiang di Banjar Batu Sangiang, Desa Gubug.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Tabanan, Putu Trisna Widiatmika, mengatakan pemasangan alarm menjadi salah satu langkah mitigasi untuk mengantisipasi potensi banjir maupun banjir bandang. “Jadi, nanti ada peralatan khusus yang mendeteksi ketinggian air saat curah hujan tinggi. Pada ketinggian tertentu, alat tersebut akan mengeluarkan bunyi peringatan,” ujarnya, Kamis (29/10).
Menurutnya, keberadaan alarm banjir di titik rawan diharapkan membantu masyarakat mengetahui potensi bahaya lebih awal sehingga dapat segera melakukan langkah antisipasi sebelum kondisi memburuk. BPBD Tabanan telah mengajukan usulan pemasangan alarm banjir tersebut kepada Pemerintah Provinsi Bali.
“Sudah kami ajukan tahun ini, mudah mudahan dapat karena dari pengalaman sebelumnya di tiga titik yang rencananya akan dipasang alarm banjir ini memang rawan,” jelasnya.
Dengan adanya sistem peringatan dini, masyarakat di sekitar aliran sungai diharapkan memiliki waktu lebih untuk menyelamatkan diri dan mengamankan barang-barang penting ketika debit air meningkat.
Sebelumnya, Kepala BPBD Tabanan I Nyoman Srinada Giri mengatakan terus menyiapkan langkah mitigasi untuk mengurangi risiko bencana saat hujan lebat pasca kemarau panjang. Seperti pemangkasan pohon perindang untuk mengantisipasi pohon tumbang saat hujan lebat. Dan pemasangan alarm banjir nantinya juga diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan banjir.
Selain itu, BPBD Tabanan mengusulkan tambahan anggaran penanganan pascabencana sebesar Rp2 miliar melalui anggaran perubahan 2026. Usulan tersebut diajukan karena anggaran induk sebesar Rp2,9 miliar telah habis terserap untuk menangani berbagai kejadian bencana sejak awal tahun. “Kami ajukan penambahan di perubahan Rp2 miliar untuk memperkuat penanganan dampak bencana serta membantu masyarakat terdampak,”pungkas Giri. (Puspawati/balipost)










