
SINGARAJA, BALIPOST.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng masih menyalurkan air bersih ke lima desa yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau. Di tengah distribusi air yang masih berlangsung, BPBD mulai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi menjelang musim hujan yang diperkirakan mulai November 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, Gede Suyasa, Rabu (28/10), mengatakan bahwa musim kemarau masih berlangsung. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sekitar 30–35 persen wilayah Bali diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November. Sementara itu, puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember hingga Februari.
Peralihan musim yang diperkirakan lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya membuat kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah masih menjadi perhatian. Lima desa yang masih membutuhkan suplai air bersih yakni Desa Tejakula, Sinabun, Madenan, Cempaga, dan Pedawa.
Penyaluran air dilakukan menggunakan truk tangki dengan dukungan sejumlah pihak, di antaranya Palang Merah Indonesia (PMI), Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM), Kementerian Pekerjaan Umum, dan pemerintah provinsi.
Hingga Selasa (27/10), distribusi air bersih masih berlangsung. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Buleleng Regu III menyalurkan total 15.000 liter air bersih ke Desa Sinabun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12.500 liter didistribusikan ke Banjar Dinas Menase dan 2.500 liter ke Banjar Dinas Jeroan.
Di sisi lain, BPBD mulai menyiapkan personel dan peralatan untuk mengantisipasi potensi bencana saat intensitas hujan meningkat. Salah satu peralatan yang disiapkan yakni gergaji mesin atau chainsaw untuk penanganan pohon tumbang akibat hujan lebat maupun angin kencang.
BPBD juga telah memberikan edukasi kesiapsiagaan kepada sejumlah desa yang dinilai rawan terdampak bencana, seperti Gitgit, Pancasari, dan Wanagiri. Selain itu, surat imbauan telah diedarkan kepada pemerintah desa, kecamatan, dan organisasi perangkat daerah (OPD) agar melakukan langkah antisipasi secara mandiri.
Upaya tersebut antara lain dengan memeriksa kondisi pohon dan memangkas cabang yang berpotensi membahayakan permukiman maupun lingkungan sekitar.
Suyasa mengimbau masyarakat dan pemerintah wilayah meningkatkan kewaspadaan serta melakukan pemeriksaan lingkungan sebelum intensitas hujan meningkat. Langkah antisipatif tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko pohon tumbang dan dampak bencana lainnya saat musim hujan tiba. (Yudha/balipost)










