Evakuasi wisatawan dengan perahu karet di kawasan Kuta yang terendam banjir. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Bali mengimbau seluruh pelaku usaha pariwisata meningkatkan kewaspadaan dan melakukan mitigasi risiko menjelang musim hujan 2026–2027. Imbauan ini dikeluarkan menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai perubahan pola awal musim hujan serta potensi bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Bali.

Imbauan tersebut tertuang dalam surat Nomor B.20.500.13/3207/DES/DISPAR yang disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya.

Sumarajaya meminta pengelola hotel, vila, restoran, daya tarik wisata, kawasan pariwisata, desa wisata, hingga penyedia jasa pariwisata untuk memperhatikan informasi cuaca dan iklim yang dikeluarkan BMKG sebagai dasar dalam mengantisipasi berbagai risiko selama musim hujan.

“Seluruh pengelola hotel, vila, restoran, daya tarik wisata, kawasan, desa wisata, hingga jasa pariwisata saya minta memperhatikan informasi resmi BMKG,” pintanya, Rabu (28/10).

Imbauan tersebut menindaklanjuti sosialisasi BMKG Stasiun Klimatologi Bali pada 28 September 2026 mengenai prakiraan musim hujan periode 2026–2027. Berdasarkan prakiraan tersebut, awal musim hujan di Bali diprediksi mundur dibandingkan rata-rata klimatologisnya.

Baca juga:  Kapolri Sebut Pelaku Bom Polrestabes Satu Keluarga, 4 Tewas

Namun, beberapa hari belakangan ini sejumlah wilayah di Bali sudah mulai diguyur hujan.

Untuk itu, Sumarajaya mengingatkan pelaku usaha pariwisata agar melakukan langkah mitigasi, terutama di kawasan yang berpotensi terdampak banjir dan tanah longsor. Kesiapsiagaan diperlukan untuk mengantisipasi gangguan terhadap aktivitas pariwisata sekaligus menjaga keselamatan wisatawan maupun pekerja.

Pelaku pariwisata diminta terus memantau perkembangan informasi iklim dan cuaca melalui kanal resmi BMKG, termasuk akun Instagram @bmkgbali.

Sementara itu, berdasarkan data normal klimatologis periode 1991–2020 yang dirilis Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Bali, Aminudin Al Ronir, wilayah Bali terbagi menjadi 20 Zona Musim (ZOM).

Awal musim hujan 2026 diprediksi terjadi pada November dan Desember. Sebanyak tiga ZOM atau 15 persen wilayah diperkirakan memasuki musim hujan pada November 2026, sedangkan 17 ZOM atau 85 persen lainnya diprediksi mulai mengalami musim hujan pada Desember 2026.

Baca juga:  Banjar Gunung Gelar Pemelaspasan Gedong dan Tajuk

Wilayah yang diperkirakan memasuki musim hujan pada November meliputi Kecamatan Banjar dan Sukasada di Kabupaten Buleleng, Baturiti dan Penebel di Kabupaten Tabanan, Pupuan, Petang di Kabupaten Badung, serta Payangan di Kabupaten Gianyar.

Sementara itu, wilayah lainnya di Bali diprediksi memasuki musim hujan pada Desember 2026.

Dari sisi perbandingan dengan kondisi klimatologis, awal musim hujan di seluruh 20 ZOM diprakirakan mengalami kemunduran dibandingkan rata-rata biasanya. Adapun sifat musim hujan diprediksi normal pada 14 ZOM atau 70 persen wilayah, sedangkan enam ZOM atau 30 persen lainnya diperkirakan mengalami musim hujan atas normal.

Puncak musim hujan juga diprediksi berlangsung secara bertahap. Sebanyak satu ZOM atau lima persen diperkirakan mengalami puncak musim hujan pada Januari 2027, kemudian 16 ZOM atau 80 persen pada Februari 2027, serta tiga ZOM atau 15 persen pada Maret 2027.

Baca juga:  Alam Desa Undisan

Perbedaan waktu awal dan puncak musim hujan tersebut menjadi perhatian bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk menyesuaikan langkah kesiapsiagaan dengan kondisi wilayah masing-masing.

Dispar Bali berharap seluruh pemangku kepentingan pariwisata tidak hanya mengandalkan informasi cuaca harian, tetapi juga mempersiapkan langkah antisipasi terhadap potensi bencana. Upaya tersebut penting, terutama bagi usaha dan destinasi wisata yang berada di kawasan rawan banjir maupun tanah longsor.

Dengan meningkatnya kesiapsiagaan, aktivitas pariwisata di Bali diharapkan tetap berjalan dengan memperhatikan aspek keselamatan, kenyamanan, dan perlindungan terhadap wisatawan selama musim hujan 2026–2027. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN