
MANGUPURA, BALIPOST.com – Di tengah pesatnya perkembangan pariwisata, krisis air bersih di Badung Selatan masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Infrastruktur jaringan pipa telah dibangun, tetapi ketersediaan air bagi masyarakat dan kebutuhan pariwisata belum sepenuhnya terpenuhi.
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa kembali menyoroti persoalan tersebut saat menggelar rapat evaluasi di Ruang Rapat Kertha Gosana, Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung, beberapa waktu lalu. Selain air bersih, rapat itu juga membahas kemacetan, sampah, alih fungsi lahan, dan keamanan.
Adi Arnawa menegaskan, pemerintah daerah harus memastikan setiap anggaran memberikan dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar menghasilkan program dan kegiatan.
“Untuk apa kita membuat kegiatan anggaran di dalam APBD di dalam tahun berikutnya ternyata tidak menyelesaikan masalah. Tujuannya kita kan menyelesaikan masalah, termasuk persoalan air ini,” tegasnya.
Salah satu upaya Pemkab Badung untuk meningkatkan pasokan air di wilayah selatan adalah pembangunan jaringan transmisi oleh Perumda Air Minum Tirta Mangutama. Jaringan tersebut menghubungkan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Estuary menuju Nusa Dua sepanjang sekitar 7,7 kilometer.
Pipa berbahan HDPE berdiameter 800 milimeter itu dirancang mengalirkan air sekitar 350–600 liter per detik. Namun, pembangunan infrastruktur tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan pasokan air bersih.
“Memang pembangunan jaringan pipa ini diharapkan menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan pasokan air ke Badung Selatan. Tapi sampai saat ini belum bisa mengatasi persoalan air ini,” katanya.
Pada September 2026, Pemkab Badung kembali membahas ancaman krisis air akibat kemarau panjang. Ketersediaan air baku yang terbatas menjadi tantangan, sehingga pembangunan jaringan transmisi saja belum cukup untuk menjamin pasokan air secara berkelanjutan.
Badung Selatan yang menjadi kawasan pariwisata utama menghadapi peningkatan kebutuhan air, baik untuk rumah tangga maupun akomodasi pariwisata.
“Badung Selatan merupakan kawasan pariwisata utama dengan kebutuhan air yang terus meningkat, baik untuk masyarakat maupun akomodasi pariwisata. Karena itu, saya meminta Sekda bersama para Asisten Setda Badung melakukan pemantauan dan evaluasi secara komprehensif,” cetusnya.
Bupati Adi Arnawa meminta agar anggaran pemerintah benar-benar menjadi solusi atas persoalan mendasar. Menurutnya, penanganan air bersih, kemacetan, sampah, alih fungsi lahan, dan keamanan harus menjadi perhatian serius.
“Ini yang menjadi perhatian. Mulai dari air bersih, kemacetan, sampah, alih fungsi lahan serta keamanan,” harapnya.
Sementara itu, Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Mangutama, Wayan Suyasa, belum berhasil dikonfirmasi terkait sorotan Bupati Badung tersebut. Pesan singkat yang dikirimkan juga belum mendapat jawaban.
Namun, sehari sebelumnya, Suyasa menyampaikan bahwa kemarau panjang berdampak langsung terhadap debit sejumlah sumber air. Perumda berupaya mengoptimalkan sumber air yang masih tersedia agar instalasi pengolahan tetap beroperasi meski debit menurun.
“Langkah ini diperlukan seiring pertumbuhan penduduk dan pesatnya perkembangan pariwisata di Kabupaten Badung, terutama wilayah Badung Selatan, yang turut meningkatkan kebutuhan air minum,” ujarnya dalam sarasehan di Kantor Perumda Tirta Mangutama, Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Rabu (21/10).
Suyasa juga menyoroti pengaruh kondisi lingkungan di wilayah hulu terhadap ketersediaan air di hilir. Untuk mengantisipasi kebutuhan jangka panjang, Perumda mulai menjajaki potensi sumber air baru.
“Pertumbuhan aktivitas pariwisata dan permukiman membuat kebutuhan air terus meningkat. Di sisi lain, ketersediaan sumber air baku sangat dipengaruhi kondisi cuaca dan lingkungan. Karena itu, pengelolaan sumber daya air tidak hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga harus menjaga kebutuhan kegiatan usaha dan pelayanan publik agar tetap berjalan,” jelasnya.(Parwata/balipost)










