
MANGUPURA, BALIPOST.com – Bukan hanya memadamkan api, Dinas Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Badung juga menangani berbagai kondisi darurat yang mengancam keselamatan masyarakat. Mulai dari ular masuk rumah, hewan terjebak di sumur, hingga potensi bahaya lainnya, petugas Damkar dituntut bergerak cepat dengan mengutamakan keselamatan.
Kepala Dinas Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Badung, Dewa Bayu mengungkapkan bahwa penanganan ular menjadi salah satu kasus penyelamatan yang paling sering ditangani petugas. Hingga menjelang Oktober 2026, jumlah penanganan ular tercatat mencapai 285 kasus.
Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa tugas damkar tidak lagi terbatas pada penanganan kebakaran. Petugas juga harus memiliki keterampilan khusus untuk menghadapi berbagai situasi darurat yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat.
“Pada intinya semua laporan kami tindaklanjuti. Tidak ada laporan yang tidak ditindaklanjuti. Semua laporan ditindaklanjuti. Cuma nanti kalau pas barengan ya harus ada prioritas. Mana yang lebih membahayakan ya itu dulu kita tangani,” ujar Dewa Bayu pada Kamis (22/10).
Dalam penanganan kebakaran, Damkar Badung menerapkan standar waktu tanggap atau response time maksimal 15 menit sejak laporan diterima hingga petugas tiba di lokasi. Untuk mendukung kecepatan penanganan, pos pemadam telah tersebar di sejumlah wilayah Badung, mulai dari kawasan selatan, tengah, hingga utara.
Petugas dari pos terdekat akan bergerak lebih dahulu. Namun, unit kendaraan berukuran kecil maupun besar tetap dikerahkan sesuai kebutuhan agar proses pemadaman tidak terkendala keterbatasan pasokan air.
Dewa Bayu menegaskan, masyarakat tidak perlu ragu menghubungi damkar ketika menghadapi keadaan darurat. Pelayanan diberikan secara gratis dan petugas tetap bekerja selama 24 jam.
“Masyarakat dapat menghubungi layanan darurat 112 atau hotline Damkar Badung di nomor 081554411333. Pelapor diharapkan memberikan informasi yang jelas, termasuk lokasi kejadian, agar petugas dapat segera menuju titik penanganan,” jelasnya.
Selain kecepatan respons, pengetahuan masyarakat mengenai tindakan awal saat kebakaran juga menjadi perhatian. Dewa Bayu mengingatkan warga agar tetap tenang dan tidak mengambil tindakan yang justru memperbesar risiko.
Untuk kebakaran kecil akibat kompor di rumah tangga, warga dapat menggunakan kain atau karung basah untuk menutup sumber api apabila situasinya aman dan tindakan tersebut sesuai dengan jenis kebakarannya. Jika api membesar atau sulit dikendalikan, segera menjauh ke tempat aman dan hubungi petugas.
Penanganan kebakaran akibat korsleting listrik membutuhkan perhatian khusus. Warga tidak boleh langsung menyiram api dengan air ketika aliran listrik masih aktif karena berisiko menimbulkan sengatan listrik. “Pemutusan aliran listrik harus dilakukan dengan aman sebelum penanganan menggunakan air, sedangkan kebakaran yang membesar harus diserahkan kepada petugas,” jelasnya.
Damkar Badung juga memberikan edukasi dan sosialisasi pencegahan kebakaran kepada masyarakat, termasuk ibu rumah tangga dan anak-anak. Edukasi tersebut diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.
Dewa Bayu mengimbau masyarakat memeriksa kompor, instalasi listrik, serta dupa setelah digunakan. Kebiasaan sederhana tersebut penting untuk mengurangi risiko kebakaran, terutama ketika penghuni rumah hendak tidur atau meninggalkan rumah.
Ia juga mengingatkan pengendara agar segera memberikan jalan ketika mendengar sirene mobil pemadam kebakaran. Keterlambatan akibat akses jalan yang terhambat dapat memengaruhi penanganan kondisi darurat.
“Salam Yuda Brahmajaya yang artinya menang melawan api. Nah, Dinas Damkar semenjak saya di sana tidak saja harus menang melawan api tetapi harus melayani sepenuh hati,” ucapnya. (Parwata/balipost)










