Peluncuran MBG di SMPN 1 kintamani (BP/Ist)

BANGLI, BALIPOST.com – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melanda Bali berdampak terhadap aktivitas belajar mengajar di SMPN 1 Kintamani. Banyak guru dan siswa yang tinggal jauh dari sekolah terlambat hadir karena harus mencari BBM hingga terjebak antrean panjang di SPBU.

Kepala SMPN 1 Kintamani, I Dewa Ayu Raka Dewi, mengungkapkan bahwa krisis BBM ini sangat menyulitkan mobilitas warga sekolah yang sebagian besar harus menempuh perjalanan jauh (ngajag). “Guru kami rata-rata ngajag, ada dari Sidemen, Dalung, ada juga dari Nusa Dua. Saya sendiri ngajag dari Tembuku. Tadi banyak guru dan siswa terlambat karena harus mencari dan mengantre BBM,” ujar Raka Dewi Rabu (14/10).

Baca juga:  Stok Energi Aman, Pemerintah Pastikan Harga BBM Tak Naik hingga Akhir Tahun

Terkait kondisi tersebut, pihak sekolah telah memberikan kebijakan toleransi keterlambatan jam masuk bagi guru dan siswa agar proses belajar mengajar tetap berjalan.

Sebagai langkah penyesuaian, Raka Dewi mengungkapkan pihaknya akan memberlakukan pembelajaran tatap muka terbatas pada Kamis (14/10) khusus bagi siswa, guru, dan pegawai yang berdomisili dekat sekolah atau yang memungkinkan untuk berjalan kaki. Kebijakan ini juga diambil untuk memastikan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang nantinya sudah terlanjur disiapkan oleh SPPG tidak terbuang sia-sia.

Baca juga:  Perkuat Pendidikan Demokrasi, KPU Goes to School Jangkau 45.399 Siswa di Bali

Selanjutnya, berdasarkan Surat Edaran Sekda Provinsi Bali, pihak sekolah akan mengalihkan proses belajar mengajar ke sistem daring pada tanggal 16 hingga 17 mendatang sembari menunggu pasokan BBM kembali pulih.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bangli, I Komang Pariartha dikonfirmasi terkait adanya kemungkinan kebijakan belajar daring akibat kelangkaan BBM, menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan pemantauan dan evaluasi secara menyeluruh terhadap kondisi di lapangan.

Baca juga:  Kunjungi Smansa, Ini yang Dilakukan Putra Bungsu Jokowi

Pariartha mengatakan, pihaknya akan memberikan wewenang penuh kepada masing-masing satuan pendidikan untuk menyesuaikan skema pembelajaran baik secara daring maupun luring, tergantung situasi guru dan siswa di sekolah tersebut.

“Tadi dari SMPN 1 Kintamani ada laporan bahwa guru-guru kesulitan membeli bensin. Kami minta untuk menyesuaikan dulu. Nanti melihat kondisi hingga sore atau malam ini, kalau memang situasinya masih sama, kami berikan kebijakan fleksibel bagi tiap sekolah untuk mengatur kegiatan belajar mengajar, apakah luring atau daring,” ujar Komang Pariartha. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN