Tim surveilans dan kesehatan lingkungan mengecek sanitasi di lingkungan sekolah. (BP/Ist)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Penyebab gangguan kesehatan yang dialami 16 siswa SD Negeri 3 Banjar Jawa, Kecamatan Buleleng, masih ditelusuri. Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng telah mengambil sampel makanan, air, dan bahan pangan untuk diuji di laboratorium. Hingga Jumat (9/10), tiga siswa masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Jumlah siswa yang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan bertambah tiga orang dibandingkan sehari sebelumnya. Pada Kamis (8/10), tercatat 13 siswa mengalami keluhan, kemudian meningkat menjadi 16 siswa pada Jumat (9/10). Gejala yang dilaporkan antara lain sakit perut, mual, muntah, dan diare.

Kepala SDN 3 Banjar Jawa, I Putu Susila Darma, mengatakan laporan kondisi siswa diterima secara bertahap sejak awal pekan. Sebagian siswa menjalani rawat jalan, sedangkan beberapa lainnya telah kembali mengikuti kegiatan belajar setelah kondisinya membaik.

Terkait dugaan gangguan kesehatan akibat konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG), Susila mengatakan pihak sekolah belum dapat menarik kesimpulan. Salah satu laporan awal memang sempat dikaitkan orang tua dengan makanan program tersebut. Namun, berdasarkan keterangan guru, siswa yang bersangkutan sudah mengalami muntah sebelum menyantap MBG di sekolah.

Baca juga:  Pansus VIII DPRD Tabanan Desak Sosialisasi Skema Pengelolaan Tanah Lot

Selain makanan yang dibagikan sekolah, sumber konsumsi siswa juga beragam. Sebagian membawa bekal dari rumah, sedangkan lainnya membeli jajanan di sekitar sekolah.

“Kami belum berani memastikan penyebabnya. Data yang ada perlu ditelusuri lebih lanjut oleh Dinas Kesehatan karena itu di luar kompetensi sekolah,” ujar Susila dihubungi Jumat (9/10).

Untuk mendukung penelusuran, sekolah meminta Dinkes mengecek kondisi lingkungan dan sanitasi, mulai dari wastafel, kamar mandi, hingga kantin. Pihak sekolah juga berkoordinasi dengan orang tua untuk memperoleh informasi terbaru mengenai kondisi siswa.

Di sisi lain, penyaluran MBG masih berlangsung setelah koordinasi dengan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Dinkes. Sekolah meningkatkan pengawasan terhadap kebersihan dan kondisi makanan yang diterima siswa.

Baca juga:  Empat Pelanggar KTR Didenda Rp 100 Ribu

Susila mengatakan, sejauh pengamatan pihak sekolah, belum ditemukan makanan MBG yang basi ataupun masih mentah. Kendati demikian, sekolah membuka kemungkinan mengusulkan penghentian sementara penyaluran program tersebut apabila jumlah siswa yang mengalami gangguan kesehatan terus meningkat secara signifikan. Usulan itu akan disampaikan melalui surat resmi.

Disisi lain, Kepala Dinkes Buleleng, dr. Sucipto, mengatakan penyelidikan dilakukan dengan melibatkan tim surveilans dan kesehatan lingkungan. Pemeriksaan diarahkan untuk mengidentifikasi kemungkinan sumber gangguan kesehatan, termasuk dari makanan yang dikonsumsi siswa maupun kondisi lingkungan sekolah.

Sampel makanan, air, dan bahan pangan telah dikirim untuk pemeriksaan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Buleleng. Sebagian sampel juga diperiksa di laboratorium tingkat provinsi. Namun, hasil pengujian tersebut belum diterima sehingga penyebab kejadian belum bisa ditetapkan.

Baca juga:  2018, Ekonomi Bali Diproyeksi Tumbuh 6,4 Persen

“Belum bisa dipastikan apakah ini keracunan akibat MBG atau karena faktor lain,” kata Sucipto.

Ia menjelaskan, penelusuran tidak terbatas pada makanan dari program MBG. Dinkes turut memeriksa kemungkinan keterkaitan dengan jajanan yang dijual pedagang di sekitar sekolah maupun makanan dari kantin.

Koordinasi dengan pengelola SPPG juga dilakukan untuk menelusuri rantai penyediaan makanan. Aspek yang diperiksa mencakup kondisi bahan baku, proses pengolahan, serta cara penanganan dan penyimpanan makanan sebelum dikonsumsi.

Menurut Sucipto, waktu antara makanan selesai dimasak dan dikonsumsi juga menjadi bagian penting dalam pemeriksaan. Meski keluhan yang muncul memungkinkan adanya kaitan dengan makanan, kepastian penyebab tetap harus didukung hasil pengujian laboratorium dan temuan di lapangan. “Gejalanya mungkin berkaitan dengan makanan, tetapi ini masih kami investigasi,” ujarnya. (Yudha/balipost)

BAGIKAN