
DENPASAR, BALIPOST.com – Aksi bersih sampah plastik serentak yang digelar Pemerintah Provinsi Bali bersama berbagai unsur lintas sektor di kawasan hutan mangrove Pesanggaran, Denpasar, Jumat (9/10). Dalam kegiatan itu erhasil dikumpulkan 3.559,53 kilogram atau sekitar 3,56 ton sampah.
Sampah tersebut terkumpul dalam 777 karung selama kegiatan yang berlangsung selama tiga jam, mulai pukul 07.00 hingga 10.00 WITA. Aksi ini dilaksanakan sehari menjelang perayaan Tumpek Wayang, Sabtu (10/10), sekaligus menjadi bagian dari gerakan serentak di seluruh kabupaten/kota di Bali untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Kegiatan tersebut melibatkan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Bali, perangkat daerah, instansi vertikal, Pemerintah Kota Denpasar, akademisi, mahasiswa, komunitas lingkungan, serta masyarakat di sekitar kawasan mangrove.
Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH)Provinsi Bali, I Made Dwi Arbani, mengatakan aksi bersih sampah tersebut merupakan bentuk kolaborasi berbagai pihak dalam mengurangi pencemaran lingkungan, khususnya akibat sampah plastik.
Selain membersihkan kawasan mangrove, kegiatan ini juga diarahkan untuk memitigasi potensi banjir akibat penumpukan sampah yang menyumbat saluran air, drainase, dan sungai. Persoalan sampah dinilai membutuhkan penanganan bersama karena dampaknya tidak hanya terhadap kebersihan lingkungan, tetapi juga kelestarian ekosistem pesisir.
Keterlibatan lintas sektor terlihat dari partisipasi unsur TNI dan Polri, termasuk Kodam IX/Udayana, Polda Bali, Korem 163/Wira Satya, Lanud I Gusti Ngurah Rai, dan Lanal Denpasar. Sejumlah instansi pemerintah serta unsur kelurahan dan desa adat di wilayah Pedungan, Pemogan, Pesanggaran, dan Serangan juga turut mendukung pelaksanaan kegiatan.
Dukungan operasional diberikan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Denpasar, terutama dalam penyediaan personel dan kendaraan pengangkut sampah. Sampah yang telah dikumpulkan kemudian disiapkan untuk diangkut ke tempat penanganan selanjutnya.
Kalangan perguruan tinggi turut mengambil bagian, di antaranya Universitas Udayana, Universitas Warmadewa, Universitas Mahasaraswati Denpasar, Universitas Pendidikan Nasional, Institut Seni Indonesia Bali, Politeknik Negeri Bali, dan Universitas Dhyana Pura.
Sejumlah komunitas pemerhati lingkungan, seperti Sungai Watch, Bersih-Bersih Bali, Eco Bali, Malu Dong, Plastik Detox, dan Trash Warrior Bali, juga dilibatkan. Partisipasi berbagai elemen ini diharapkan memperluas gerakan kepedulian lingkungan sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam mengurangi sampah dari sumbernya.
Pelaksanaan kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari implementasi Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai. Para peserta diwajibkan membawa botol minum guna ulang atau tumbler untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik sekali pakai.
Peserta juga membawa perlengkapan kebersihan secara mandiri, seperti penjepit sampah, sarung tangan, dan karung. Dengan demikian, kegiatan tidak hanya berorientasi pada pengumpulan sampah, tetapi juga mengajak masyarakat membiasakan perilaku yang lebih ramah lingkungan.
Terkumpulnya 3,56 ton sampah dalam satu kali kegiatan menjadi gambaran tantangan pengelolaan sampah di kawasan pesisir Bali. Di sisi lain, capaian tersebut menunjukkan pentingnya aksi kolektif dalam menjaga kebersihan kawasan mangrove yang memiliki fungsi ekologis bagi lingkungan pesisir.
Momentum Tumpek Wayang pun dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran bahwa menjaga lingkungan tidak cukup dilakukan melalui kegiatan bersih-bersih sesaat. Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pemilahan sampah, dan pengelolaan sampah sejak dari sumbernya perlu menjadi kebiasaan berkelanjutan.
Melalui gerakan serentak ini, Pemprov Bali berharap sinergi pemerintah, aparat, dunia pendidikan, komunitas lingkungan, dan masyarakat terus terjaga sehingga upaya mewujudkan Bali yang bersih, sehat, dan lestari dapat berjalan secara konsisten. (Ketut Winata/balipost)









