
NEGARA, BALIPOST.com – PDAM Tirta Amertha Jati memediasi sengketa pemanfaatan air antara BUMDes dan belasan kelompok air minum di Desa Berangbang dan Kelurahan Baler Bale Agung yang sempat viral. Mediasi menghasilkan kesepakatan berbagi air dengan sistem giliran.
“Permasalahan sebenarnya belum masalah. Tetapi ini adalah upaya awal, terutamanya dari PDAM yang membantu kami wilayah Desa Berangbang dan Baler Bale Agung untuk menyikapi dampak kekeringan,” kata Perbekel Berangbang, Gusti Putu Supradnya, Jumat (9/10).
Menurutnya, permasalahan yang sempat viral itu sudah diselesaikan hari ini. Tidak ada masalah yang rumit antara kelompok, BUMDes, maupun PDAM. “Alangkah bagusnya dari awal kita antisipasi dan apa yang dilakukan, dimediasi atau difasilitasi oleh PDAM,” ujarnya.
Supradnya menjelaskan, di wilayah Desa Berangbang ada 4 kelompok pengguna air di luar BUMDes. Sementara, di Kelurahan Baler Bale Agung, tepatnya di Pancardaya, ada 7 kelompok. Debit air yang berkurang akibat kemarau sangat berpengaruh karena pipa yang digunakan lumayan besar. Selain itu, ada pula pengguna perorangan dengan pipa 1 dim untuk kebutuhan air minum.
“Jadi permasalahan ini nantinya akan kembali dibicarakan di dalam dari kelompok dan pengurus BUMDes, termasuk PDAM. Yang pada prinsipnya tidak ada masalah, satu kesepakatan, jadi akan diatur ulang. Ada giliran,” katanya.
Kesepakatan lainnya, kelompok yang lebih di utara akan membagi airnya. Ketika dipandang belum mencukupi terutama oleh konsumen BUMDes, air akan digilir lagi malam hari dari kelompok-kelompok yang ada.
Tercatat, pengguna air dari sumber ini mencapai ribuan KK. Di BUMDes saja ada 705 KK, ditambah masing-masing kelompok yang beranggotakan 100 KK lebih.
Sementara itu, Direktur PDAM Tirta Amertha Jati, I Gede Puriawan mengatakan, hampir semua air permukaan, termasuk air baku di bendungan, mengalami penurunan debit. Hal itu sangat memengaruhi pelayanan, terutama tekanan air yang sampai ke pelanggan. “Karena debitnya kecil semua di sumber air baku itu, jadi tekanan ke masyarakat juga kecil,” kata Puriawan.
Di sisi lain, penggunaan air pelanggan meningkat, terutama pada jam-jam puncak. Selain kebutuhan sehari-hari, air juga dipakai untuk tanaman.
Puriawan mengimbau masyarakat bijak menggunakan air bersih selama musim kemarau. Pihaknya masih memiliki idle capacity atau kapasitas yang belum terserap, tetapi akan berkurang jika terus digunakan berlebih. Masyarakat juga diminta mengecek jaringan yang bocor dan menutup penggunaan air yang tidak perlu.
Terkait bantuan air bersih, Puriawan menyebut setiap hari disalurkan 4 sampai 5 tangki. Satu tangki berisi 4 kubik atau 4.000 liter. Air itu diambil PMI, BPBD, TNI, dan Polri secara cuma-cuma dan dicatat sebagai NRW atau kebocoran air yang terdata.
“Pertama, tentu adalah komunikasi. Kadang-kadang masyarakat itu langsung kepada pimpinan. Jadi pimpinan, dalam hal ini Bapak Bupati, sering menyampaikan kepada kami, turun kepada masyarakat, sampaikan kepada masyarakat bahwa kondisinya seperti ini. Dengan komunikasi yang baik, masyarakat diharapkan paham kondisi dan tidak ada lagi ego sektoral dalam penggunaan air,” katanya. (Surya Dharma/balipost)










