Kebun bawang merah milik warga di wilayah Kintamani. (BP/Ina)

 

BANGLI, BALIPOST.com – Kabupaten Bangli mendapat alokasi bantuan program pengembangan bawang putih seluas 22 hektar dari pemerintah pusat pada tahun ini. Bantuan berupa benih, pupuk, hingga sarana prasarana penunjang tersebut akan dikucurkan oleh Kementerian Pertanian guna mendukung percepatan target swasembada bawang putih.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, Kadek Sri Mulyani, menyampaikan bahwa alokasi 22 hektar tersebut disesuaikan dengan kesanggupan petani di lapangan yang telah terdata. “Potensi lahan kita sebenarnya luas, tetapi alokasi 22 hektar ini sesuai dengan jumlah petani yang benar-benar siap dan sanggup menanam tahun ini,” ujar Sri Mulyani, Kamis (8/10).

Baca juga:  Gubernur Koster dan Dubes Korsel Bahas Pengembangan Kendaraan Listrik Berbasis Baterai

Berdasarkan data Penetapan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL), lahan 22 hektar tersebut tersebar di sembilan desa di Kecamatan Kintamani, yaitu Desa Pinggan, Sukawana, Abang Batu Dinding, Manikliyu, Songan B, Terunyan, Abang Songan, dan Songan A.

Saat ini, proses verifikasi CPCL telah selesai diselesaikan dan sosialisasi kepada kelompok tani penerima telah dilakukan di BPP Kintamani Timur. Dinas PKP Bangli kini tinggal menunggu realisasi pencairan serta pendistribusian bantuan benih dan saprodi dari pusat yang diperkirakan berlangsung pada kurun Oktober hingga November mendatang. Bantuan tersebut nantinya akan disalurkan langsung ke titik bagi masing-masing kelompok tani untuk segera dimulainya masa tanam. “Sekarang tinggal menunggu bantuan realisasi,” ujarnya.

Baca juga:  Jukung Ditabrak Tug Boat, Nelayan Terombang-ambing di Perairan Tulamben

Lanjut diungkapkan bahwa, program pengembangan bawang putih di Bangli sempat vakum selama beberapa tahun terakhir lantaran tidak ada petani yang berminat menanam. Enggannya petani membudidayakan bawang putih dipicu oleh sejumlah kendala. Selain masa tanam yang lebih panjang dibanding komoditas bawang merah, petani juga menghadapi kendala persaingan pasar. Ukuran bawang putih lokal cenderung lebih kecil dibandingkan bawang putih impor, sehingga kalah bersaing di pasaran dan memicu kekhawatiran terkait kepastian pembeli pascapanen. Petani di kintamani umumnya lebih memilih membudidayakan bawang merah atau cabai yang memiliki siklus panen lebih cepat dan pasar yang lebih pasti.

Baca juga:  Pemkab Badung Janjikan Rumah Sehat untuk Jro Made Taman

Untuk meyakinkan petani agar kembali mau menanam tahun ini, pihak dinas berraama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan tim kementerian turun langsung ke lapangan melakukan pendekatan dengan petani. Kesepakatan akhirnya tercapai setelah pemerintah pusat mengakomodasi usulan bantuan sarana produksi yang lebih lengkap. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN