
DENPASAR, BALIPOST.com – Irjen Daniel Adityajaya menjabat Kapolda Bali sekitar 2 tahun 2 bulan. Selama bertugas di Bali, Irjen Daniel yang dikenal low profile ini mengedepankan pendekatan soft approach (pendekatan lunak), yakni mengutamakan komunikasi, persuasi, dan kerja sama. Bahkan ia selalu mengingatkan anggota supaya benar-benar memposisikan diri sebagai pelayan masyarakat. Artinya seorang anggota Polri tidak boleh merasa berada di atas masyarakat, melainkan harus menempatkan diri di bawah.
Saat pimpin apel jam pimpinan beberapa waktu lalu, mantan Kapolda Kaltara ini menekankan kepada seluruh anggotanya untuk memberikan pelayanan yang maksimal, profesional, dan humanis kepada masyarakat. Keberadaan Polri pada hakikatnya adalah sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Oleh karena itu, ia selalu mengingatkan bahwa polisi harus benar-benar memposisikan diri sebagai pelayan masyarakat.
Seorang anggota Polri tidak boleh merasa berada di atas masyarakat, melainkan harus menempatkan diri di bawah. Dengan sikap rendah hati, siap membantu, serta hadir memberikan solusi bagi setiap permasalahan yang dihadapi masyarakat. “Karena itu, kita harus benar-benar memposisikan diri sebagai pelayan. Jangan pernah merasa berada di atas masyarakat. Tempatkan diri kita di bawah, karena tugas kita adalah melayani masyarakat dengan tulus, profesional, dan humanis,” tegasnya.
Mantan Kasubdit Harda Bareskrim Polri ini menekankan bahwa pelayanan yang baik bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga tentang sikap empati, komunikasi yang santun, serta kehadiran polisi yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat. Dengan komitmen tersebut, diharapkan Polda Bali bersama jajarannya makin dekat dengan masyarakat, membangun kepercayaan publik, serta menghadirkan Polri yang humanis, responsif, dan selalu hadir sebagai solusi di tengah kehidupan masyarakat.
Selain itu, Kapolda Daniel menjunjung tinggi kearifan lokal Bali. Hal ini dibuktikan dengan menggelar Apel Bersama Pecalang di Lapangan Puputan Margarana, Renon, Denpasar Timur, beberapa waktu lalu. Langkah strategis ini diambil guna memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di Pulau Dewata tetap kondusif di tengah dinamika global saat ini.
“Apel ini bertujuan untuk memperkuat komitmen kolektif kita semua dalam menjaga situasi Kamtibmas Bali agar tetap kondusif. Di tengah situasi yang sangat dinamis dan pengaruh situasi global saat ini, Bali harus tetap dipastikan aman dan damai,” tegasnya.
Lebih lanjut, jenderal bintang dua ini menekankan pentingnya melakukan deteksi dini terhadap segala bentuk potensi gangguan keamanan. Polda Bali berkomitmen untuk meminimalisasi, bahkan menghilangkan setiap potensi gangguan tersebut secara tegas dan humanis. Terlebih, saat ini Bali telah diperkuat oleh sistem pengamanan terpadu Sipandu Beradat (Sistem Pengamanan Lingkungan Terpadu Berbasis Desa Adat).
Sistem ini mengintegrasikan berbagai elemen keamanan masyarakat secara modern dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan dan budaya lokal.
Kapolda mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling bahu-membahu dalam menjaga marwah Pulau Dewata. “Melalui momentum Apel Pecalang ini, kami mengimbau dan mengajak seluruh lapisan masyarakat Bali, mari kita bersama-sama menjaga Bali yang kita cintai ini agar tetap ajeg, aman, dan damai,” ujar Irjen Daniel.
Pecalang merupakan bagian penting yang memiliki kemampuan deteksi dini, pendekatan persuasif serta mampu menjelaskan masalah kultural yang sangat efektif. Pihaknya bersyukur karena jumlah pecalang di Bali saat ini mencapai kurang lebih sekitar 25.000 orang lebih. Termasuk pecalang perempuan. “Ini kekuatan khusus yang harus kita terawat dan terus tingkatkan kualitasnya ke depan,” ucapnya.
Daniel menegaskan potensi konflik dapat dicegah. Dengan demikian Bali akan tetap berdiri kokoh sebagai daerah yang aman dan damai. Apalagi saat ini masih dipenuhi ketidakpastian berbagai isu global hingga nasional. Mulai dari fluktuasi harga BBM hingga pro dan kontra terhadap berbagai program-program pemerintah serta isu premanisme yang telah memunculkan ruang-ruang polarisasi dan potensi unjuk rasa di berbagai wilayah Indonesia. Situasi ini harus disikapi dengan bijak, cermat dan penuh kewaspadaan.
Sementara praktisi hukum Made Somya Putra, SH, MH, mengharapkan catatan-catatan masa lalu yang belum terselesaikan seperti dalam bidang keamanan, terjadi kenakalan remaja, kenakalan orang asing, prilaku kelompok-kelompok pencari kerja yang mengganggu di depan umum ,serta premanisme, bisa dituntaskan Kapolda Bali yang baru, Brigjen Pol. Dr. Pasma Royce, S.I.K., M.H.
“Dalam penegakan hukum juga masih perlu diatensi lebih seperti kasus narkoba yang ternyata masih tinggi, perjudian marak yang diduga dibacking oleh oknum aparat, galian C yang ilegal, kasus bernuansa mafia mafia tanah, serta pungli ataupun pungutan-pungutan yang terjadi ketika sedang dalam proses hukum,” tegasnya. Menurutnya hal ini tentu saja masih penting dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada institusi Polri. (Kerta Negara/balipost)










