
JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (2/10) bergerak menguat 84 poin atau 0,47 persen menjadi Rp17.882 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.966 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
“Data inflasi yang lebih rendah telah menurunkan ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga lagi bulan ini. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan pada bulan Oktober hanya sekitar 26 persen, turun tajam dari 69 persen pada pekan sebelumnya,” ujarnya dikutip dari Kantor Berita Antara.
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) utama AS naik 3,4 persen secara tahunan (year-on-year) pada bulan Agustus. Angka ini berada di bawah perkiraan konsensus sebesar 3,7 persen.
Indeks harga PCE inti AS, yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi yang fluktuatif, naik 3 persen. Angka tersebut lebih rendah dari ekspektasi kenaikan 3,3 persen dan mencerminkan penurunan dari posisi 3,3 persen pada bulan Juli.
Secara bulanan, PCE inti naik 0,2 persen, turun tipis 0,1 poin persentase dari bulan sebelumnya dan berada di bawah proyeksi kenaikan sebesar 0,3 persen.
Di samping itu, konflik AS dengan Iran masih memanas seiring ancaman Presiden AS Donald Trump berencana untuk melancarkan serangan bom terhadap Iran pada bulan November pasca pemilihan umum paruh waktu AS di bulan tersebut.
“Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat,” kata Ibrahim.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp17.898 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.937 per dolar AS. (kmb/balipost)









