
SINGARAJA, BALIPOST.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng terus melakukan penanganan dampak musim kemarau yang mulai menyebabkan sejumlah wilayah mengalami krisis air bersih. Hingga pertengahan September, lebih dari 800.000 liter air telah didistribusikan ke sejumlah desa yang membutuhkan.
Kepala Pelaksana BPBD Buleleng Gede, Suyasa yang dihubungi, Selasa (29/9), mengatakan, penanganan kekeringan dilakukan secara kolaboratif bersama Palang Merah Indonesia (PMI), Kementerian Pekerjaan Umum, dan Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng. Saat ini, sedikitnya lima desa telah mendapatkan fasilitasi distribusi air bersih maupun tandon. Desa yang telah mendapat penanganan yakni Tejakula, Tegallinggah, Sinabun, Cempaga, dan Madenan.
Menurutnya, permintaan air bersih di sejumlah wilayah muncul akibat debit air dari jaringan perpipaan yang menurun. Di Sinabun, permintaan air bahkan telah berlangsung hampir sebulan, sedangkan Cempaga telah ditangani lebih dari dua pekan. “Dari awal penanganan sampai pertengahan September, sekitar 800.000 liter air sudah kita distribusikan,” ujarnya.
Ia menegaskan, angka tersebut merupakan rekapitulasi distribusi yang dilakukan secara bersama-sama dengan sejumlah pihak, bukan hanya BPBD. Data distribusi selanjutnya masih akan direkap untuk mengetahui jumlah bantuan air yang telah disalurkan masing-masing instansi.
Di sisi lain, untuk mendukung penanganan bencana, BPBD Buleleng mendapat tambahan anggaran sekitar Rp200 juta dalam anggaran perubahan. Dana tersebut diprioritaskan untuk kebutuhan operasional, terutama bahan bakar minyak (BBM) dan pemeliharaan kendaraan.
Selain itu, sebagian anggaran juga disiapkan untuk kebutuhan logistik masyarakat, cadangan penanganan alat berat serta kebutuhan makan petugas di lapangan.
“Anggaran sudah kita kelola semaksimal mungkin, menyesuaikan dengan kondisi di lapangan,” jelas Suyasa. (Yudha/balipost)










