Petugas melakukan pembersihan sampah dampak dari antrean di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk. (BP/istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Antrean panjang kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk membawa dampak bagi kebersihan serta sanitasi kawasan sekitar Gilimanuk. Sepanjang lintasan jalan utama Denpasar-Gilimanuk hingga jalur alternatif di permukiman warga kini dipenuhi lautan sampah anorganik dan aroma tak sedap.

Petugas kebersihan Kelurahan Gilimanuk terpaksa menguras tenaga ekstra untuk menanggulangi lonjakan limbah rumah tangga maupun residu yang ditinggalkan para pengguna jalan. Setiap kali kendaraan mengular, volume sampah dipastikan melonjak drastis.

Lurah Gilimanuk, Ida Bagus Tony Wirahadikusuma, Rabu (23/9), mengatakan bahwa volume sampah yang dievakuasi petugas dari area publik dan lintasan permukiman mencapai ton-tonan.

Baca juga:  Kunjungi Gilimanuk, Menhub Ungkap Jumlah Wisatawan ke Bali Alami Kenaikan

“Untuk sampah anorganik dan residu di jalanan terkumpul sekitar setengah ton. Sementara di kawasan perkampungan yang dilintasi kendaraan, petugas mencatat volume sampah setelah dipilah bisa menembus lebih dari satu ton,” ujar Tony.

Angka tersebut belum mencakup limbah yang dikumpulkan masyarakat secara swadaya di belakang pasar sebelum dipilah ulang. Kurangnya fasilitas penampungan juga memicu sebagian warga membakar sampah secara mandiri, yang justru memicu polusi udara baru dari asap pembakaran.

Baca juga:  Empati Terhadap Anak Yatim Piatu, Ini Dilakukan Kapolsek Eka

Tingginya beban kerja membuat proses pengangkutan sampah dari kontainer penampungan ditingkatkan hingga dua kali lipat dalam sehari. Dalam kurun waktu tiga hari terakhir, sebanyak tiga hingga empat kontainer sampah telah diangkut dari wilayah tersebut.

Tak hanya persoalan sampah, dampak kemacetan meluas ke krisis sanitasi lingkungan. Sejumlah pengguna jalan nekat membuang hajat secara sembarangan di pinggir jalan hingga sudut pemukiman warga akibat minimnya toilet umum di sepanjang jalur antrian. Petugas kebersihan seringkali harus berhadapan dengan bau menyengat saat menyisir lokasi.

Baca juga:  Protes Penindakan ODOL, Sopir Truk Demo di Gilimanuk

Atas kondisi berulang ini, pihak Kelurahan Gilimanuk mendesak pengelola penyeberangan, khususnya PT ASDP Indonesia Ferry, untuk turun tangan dan bertanggung jawab atas dampak lingkungan yang ditimbulkan.

“Persoalan ini sudah kami angkat dalam rapat koordinasi. Kami minta pihak pengelola penyeberangan seperti ASDP turut berkontribusi, salah satunya dengan menyediakannya fasilitas penampungan sampah di titik-titik krusial antrean. Kami akan tindak lanjuti koordinasi ini segera,” tegas Tony. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN