Proses pengerukan sedimentasi di dasar Waduk Nusa Dua di Kawasan Kelurahan Pemogan oleh Satker OP SDA Bali Penida. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida melalui Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (Satker OP SDA) Bali Penida melakukan pengerukan sedimentasi di Waduk Muara Nusa Dua. Pekerjaan ini dilakukan untuk mengoptimalkan kapasitas tampungan waduk sekaligus memperlancar pasokan air menuju instalasi penampungan air baku PDAM.

PPK Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air IV Satker OP SDA Bali Penida, Ni Nyoman Tri Adnyani, ST., mengatakan pengerukan juga menjadi bagian dari upaya mengantisipasi potensi banjir, terutama memasuki musim penghujan.

“BWS BP melalui Satker OP SDA Bali Penida rutin melaksanakan pengerukan di Waduk Muara. Pelaksanaan pengerukan dilaksanakan secara swakelola dengan menggunakan dua unit excavator amphibious untuk pengerukan di area waduk atau tampungan dan satu unit excavator standar untuk area disposal. Sedangkan pengangkutan menggunakan dump truck,” ujarnya, Selasa (22/9).

Menurut Tri Adnyani, Waduk Muara Nusa Dua merupakan bagian hilir dari sistem aliran Tukad Badung. Sungai tersebut berhulu di wilayah Abiansemal dan Mengwi, kemudian menerima aliran dari sejumlah anak sungai di wilayah Peguyangan, Ubung, Pemecutan Kaja, dan Dauh Puri Kaja, Denpasar Utara.

Baca juga:  Letak Geografis dan Cuaca Sebabkan Bali Punya Potensi Tinggi Energi Satu Ini

Dalam perjalanannya menuju hilir, Tukad Badung turut membawa material sedimen dan sampah permukaan dari wilayah Denpasar. Material tersebut kemudian terakumulasi di kawasan Waduk Muara Nusa Dua sehingga secara berkala perlu dilakukan pengerukan.

Pengerukan swakelola oleh Satker OP SDA Bali Penida telah berlangsung sejak Januari 2026 dan ditargetkan selesai pada November 2026. Pekerjaan memanfaatkan kondisi debit air yang relatif rendah selama musim kemarau sehingga proses pengerukan di area genangan dapat dilakukan lebih efektif tanpa memerlukan penggelontoran air secara khusus.

Tahapan pekerjaan meliputi pengerukan sedimen di area genangan menggunakan metode pelipatan. Kemudian sedimen dipindahkan ke lokasi disposal sementara untuk dikeringkan. Setelah itu, material sedimen diangkut keluar dari kawasan waduk menggunakan dump truck.

Baca juga:  Desa Adat Bertanya-tanya BKK Tahap 3 Tak Kunjung Cair, Ini Kata Kadis PMA Bali

“Lokasi pengerukan diprioritaskan di area hulu groundsill. Namun, saat ini pengerukan juga dilaksanakan di hilir groundsill untuk memperlancar aliran air ke intake PDAM,” kata Tri Adnyani.

Ia menjelaskan, pengerukan di bagian hulu groundsill diarahkan untuk menahan laju akumulasi sedimen agar tidak semakin banyak terbawa ke bagian hilir. Sementara pengerukan di hilir groundsill dilakukan untuk membantu memperlancar aliran air menuju intake air baku PDAM.

Selain pengerukan sedimentasi, Satker OP SDA Bali Penida juga membuat alur air sepanjang kurang lebih 100 meter dengan kedalaman sekitar satu meter. Alur tersebut dibuat untuk memperlancar aliran air dari bendung karet menuju intake PDAM.

Penanganan sedimentasi di Waduk Muara Nusa Dua pada 2026 juga mencakup pekerjaan yang dilakukan sebagai tindak lanjut dampak banjir pada September 2025.

Pekerjaan penanganan di area pemanfaatan atau bagian hilir groundsill dilaksanakan PT Minarta Dutahutama. Pekerjaan tersebut berlangsung sejak akhir Februari hingga akhir April 2026 dan telah diselesaikan dengan volume pengerukan sekitar 18.000 meter kubik. Sedimen hasil pengerukan pekerjaan tersebut dibuang ke lokasi di Jalan Griya Anyar.

Baca juga:  Ditabrak Dump Truk, Driver Ojol Meninggal di Jalan Mahendradatta

Sementara itu, untuk pengerukan yang dilakukan secara swakelola oleh BWS Bali Penida melalui Satker OP SDA Bali Penida, hingga saat ini sedimen yang telah dikeluarkan dari kawasan waduk mencapai sekitar 4.515 meter kubik.

Sedimen hasil pengerukan swakelola tersebut dibawa ke lokasi pembuangan di Jalan Bypass Ngurah Rai. Pekerjaan swakelola masih terus berlangsung dan ditargetkan rampung pada November 2026.

Dengan pengerukan secara bertahap tersebut, kapasitas tampungan Waduk Muara Nusa Dua diharapkan tetap terjaga. Selain mendukung pengelolaan sumber daya air dan kontinuitas pasokan air baku, pekerjaan tersebut menjadi bagian dari pemeliharaan infrastruktur sumber daya air untuk mengurangi potensi gangguan akibat sedimentasi saat debit air meningkat pada musim penghujan. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN