Kondisi pohon mangrove yang mati di kawasan Pelindo. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ratusan pohon mangrove dilaporkan mati mendadak di kawasan Pelindo Benoa, tepatnya di sebelah barat pintu masuk Tol Bali Mandara, Benoa, Denpasar Selatan. Kajian tim dari Universitas Udayana (Unud) menyatakan adanya indikasi kuat mengarah pada keracunan logam berat dan senyawa hidrokarbon (minyak).

Terkait kematian ratusan mangrove ini, Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Bali, I Made Dwi Arbani, mengatakan lokasi mangrove yang terdampak masuk dalam kawasan KSOP Pelindo, bukan wilayah Tahura Ngurah Rai.

Baca juga:  Dari Lomba Jegeg Bagus hingga Paduan Suara

“Yang terdampak itu bukan masuk kawasan Tahura, tapi mangrove milik KSOP Pelindo,” ungkap Dwi Arbani saat ditemui di kantornya, Rabu (25/2).

Meski bukan menjadi kewenangan langsung DKLH Bali, pihaknya tetap melakukan pengawasan. Bahkan tim telah turun ke lapangan sejak sehari sebelumnya untuk melakukan pemetaan tingkat kerusakan mangrove.

“Tim kami sudah turun ke lapangan dari kemarin, mereka melakukan pemetaan tingkat kerusakan mangrove yang memang kewenangan Pelindo,” jelasnya.

Baca juga:  Pengempon Pura Alas Arum Batur Gelar Karya Pamelaspas Bale Pemaruman dan Pujawali Sasih Kasanga 2026

Menurutnya, langkah awal yang dilakukan adalah memetakan skala dan tingkat kerusakan sebelum menentukan upaya pemulihan. DKLH Bali juga memastikan akan tetap melakukan pengawasan lintas instansi. “Kami petakan dulu kerusakannya, baru kemudian dilakukan langkah-langkah untuk pemulihan,” ujarnya.

Selain itu, DKLH Bali meminta komitmen sejumlah pihak terkait, termasuk Pelindo, PLN dan Pertamina, agar tidak hanya melakukan penanaman mangrove sebagai bentuk tanggung jawab lingkungan, tetapi juga memastikan perawatan berkelanjutan. “Kami juga meminta komitmen. Tidak hanya menanam tapi juga memelihara,” tegasnya. (Ketut Winata/balipost

Baca juga:  Jaga Kondusifitas, Ormas Ikuti Penyuluhan Polres
BAGIKAN