
NEGARA, BALIPOST.com – Antrean panjang kendaraan yang hendak menyeberang ke Pulau Bali kembali terjadi di rute penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, Jumat (18/9). Kepadatan ini dipicu oleh akumulasi kendaraan dari periode sebelumnya, yang diperparah oleh gangguan operasional akibat kondisi air laut surut.
Fenomena alam ini menyulitkan proses manuver dan sandar kapal di dermaga. Hingga Jumat sore, antrean kendaraan hendak masuk Pelabuhan Gilimanuk mengular hingga Gelung Kori dan terus bertambah. Upaya memilah kendaraan barang langsung ke dermaga LCM dan beberapa ke dalam Pelabuhan juga sudah dilakukan. Hal ini memicu ketidakpastian waktu tempuh terutama untuk angkutan umum antar pulau.
Salah seorang penumpang bus ke Semarang, Rita (50) mengatakan kondisi penyeberangan Jawa-Bali maupun sebaliknya saat ini cenderung tidak seperti beberapa bulan sebelumnya. Tidak ada kepastian waktu kapan akan sampai karena terdampak antrian penyeberangan.
“Ini harusnya bus pagi dari Denpasar jam 10. biasanya jam 3-4 sore sudah di Ketapang, karena antrean bisa malam, baru nyeberang,” ujarnya.
Hal lebih parah dirasakan para sopir logistik. Antrean disebut hampir terjadi setiap hari baik masuk Bali maupun ke luar Bali. Lukman Riadi (40) sopir truk asal Kediri, mengatakan dulu paling padat di Gilimanuk hanya di awal pekan seperti hari Senin atau Selasa. Sekarang hampir setiap hari sejak bulan Juli -Agustus lalu.
Merespons kondisi tersebut, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengaku telah mengoptimalkan layanan penyeberangan guna mengurai kemacetan. Sebanyak 24 kapal dikerahkan dengan pola operasi dinamis yang sangat bergantung pada pergerakan pasang surut air laut, arus, serta angin di Selat Bali.
Ke-24 armada yang dioperasikan terdiri dari 22 kapal reguler dan dua kapal perbantuan berukuran besar, yakni KMP Jatra I dan KMP Portlink VII. Armada ini disebar secara strategis, dengan lima kapal beroperasi di Dermaga MB 1, lima kapal di MB 3, lima kapal (termasuk perbantuan) di MB 4, serta sembilan kapal di Dermaga LCM.
Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menyebutkan fokus utama saat ini adalah menjaga produktivitas kapal agar kendaraan yang mengantre dapat segera diseberangkan. Namun, ia mengakui bahwa dinamika pasang surut laut menjadi tantangan terbesar di lapangan.
“Produktivitas penyeberangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah kapal. Dinamika pasang surut air laut sangat memengaruhi kelancaran proses manuver dan sandar kapal, serta siklus bongkar muat di dermaga,” ungkap Windy.
Meski ditekan oleh panjangnya antrean, Windy menegaskan bahwa aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama. ASDP tidak akan mengambil risiko dan terus berkoordinasi intensif dengan regulator, seperti KSOP dan BPTD, dalam mengatur pola operasi di tengah kondisi air surut.
Dari sisi cuaca, kondisi perairan sebenarnya relatif aman. Berdasarkan data BMKG, cuaca di Pelabuhan Ketapang didominasi cerah berawan dengan tinggi gelombang berkisar 0,1–0,5 meter.
Kecepatan angin berada di kisaran 3–8 knot dengan hembusan maksimum 19 knot. Kendati cuaca mendukung, pergerakan arus dan air laut surut tetap menjadi kendala teknis yang krusial bagi kapal saat mendekati dermaga.
General Manager ASDP Cabang Ketapang, Media Syahrianto, menambahkan pelabuhan memanfaatkan setiap momentum saat kondisi air laut memungkinkan untuk mempercepat bongkar muat.
“Kami terus menjaga ritme bongkar muat. Apabila kondisi air surut memengaruhi proses sandar di dermaga tertentu, pola operasi akan langsung kami sesuaikan. Aspek keselamatan pelayaran menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan kami,” tegas Media.
ASDP mengimbau para pengguna jasa yang tengah mengantre untuk tetap bersabar, mematuhi arahan petugas lalu lintas di pelabuhan, serta memantau informasi resmi terkini.
“Kami memahami ketidaknyamanan akibat waktu tunggu yang lama ini. Bersama seluruh stakeholder, kami berupaya keras memaksimalkan pelayanan agar arus kendaraan dapat segera kembali lancar tanpa mengesampingkan keselamatan penumpang,” tutup Windy. (Surya Dharma/balipost)









