Made Maruta (84), penyandang disabilitas asal Gianyar menerima bantuan kaki palsu yang terbuat dari sampah plastik. (BP/Istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Seorang lanjut usia, I Made Maruta (84) kini bisa beraktivitas lebih mandiri setelah memperoleh bantuan kaki palsu.

Dikatakan putranya, Yudha Maruta, ayahnya mengalami amputasi pada 2020 akibat diabetes. Sejak saat itu, aktivitas sehari-harinya lebih banyak dilakukan dengan bantuan kursi roda.

Dengan bantuan kaki palsu ini, ayahnya pun bisa kembali berdiri dan berjalan serta menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih mandiri.

Ia pun mengucapkan terima kasih kepada Mitra Prodin, Bhakti Rahayu Group, dan Yayasan Kaki Kita Senusantara atas donasi kaki palsu yang diberikan.

“Bantuan kaki palsu ini tentu sangat berguna untuk keseharian bapak kami di rumah. Harapan ke depannya, agar kegiatan semacam ini bisa menyentuh lebih banyak penerima di luar sana,” ungkapnya.

Kaki palsu yang diserahkan cukup unik karena merupakan hasil dari pengolahan sampah plastik yang diproduksi Yayasan Kaki Kita Senusantara (YKKS).

Baca juga:  Galery dan Kafe di Ubud Terbakar, Kerugian Miliaran Rupiah

Ketua Dewan Pembina YKKS, Ivan Yunatana, mengatakan selain memenuhi aspek kemanusiaan untuk membantu mereka yang membutuhkan kaki palsu, aspek lingkungan juga terpenuhi sebab kaki palsu tersebut memanfaatkan sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik sebelumnya.

“YKKS memproduksi kaki palsu yang terbuat dari sampah plastik dan telah menyalurkan ke banyak penerima yang membutuhkan,” jelas Ivan yang juga Direktur Utama Bhakti Rahayu Group.

Lebih lanjut, Ketua Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia (APSI) Bali dan Nusa Tenggara ini mengatakan dengan memanfaatkan sampah plastik tersebut, aspek kelola lingkungan dapat terwujud begitu juga dengan aspek sosial nya atau kemanusiaan dapat membantu mereka mereka yang butuh kaki palsu.

Sementara Ketua Yayasan Kaki Kita Senusantara, Made Aditiasthana, menjelaskan, dalam proses pembuatannya, satu kaki palsu membutuhkan sekitar 5 kilogram plastik. Setelah melalui proses pengolahan dan pembentuk, material tersebut mengalami penyusutan hingga menjadi sekitar 2–3 kilogram untuk produk kaki palsu.

Baca juga:  Tumpek Wayang, Pemkab Badung Rayakan dengan Berbagai Kegiatan

Material plastik daur ulang tersebut juga memberikan karakter unik pada setiap produk. Pola dan warna kaki palsu terbentuk dari warna asli sampah plastik yang digunakan.

“Pattern terbentuk dari warna asli sampah. Misalnya putih dengan bercak hitam, menggunakan sampah putih dan hitam,” jelas pria yang akrab disapa Adit ini.

Menurutnya, setiap kaki palsu dapat memiliki tampilan yang berbeda. Warna maupun pola juga dapat disesuaikan berdasarkan permintaan penerima, sehingga material yang sebelumnya merupakan sampah plastik dapat diolah menjadi produk yang memiliki fungsi sekaligus nilai estetika.

Pemberian kaki palsu, lanjutnya, bukan menjadi tahap akhir. Penerima juga membutuhkan pendampingan agar dapat beradaptasi dan menggunakannya secara optimal.

Chief Operating Officer (COO) Mitra Prodin, Erwin Johan, mengatakan donasi kaki palsu tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian sosial perusahaan kepada masyarakat.

Baca juga:  Gubernur Koster Ikuti Aksi "Suksma Bali" di Kuta, Akan Luncurkan KBS

“Misi awal kami di Bali adalah memberdayakan perempuan, terutama perempuan yang bisa bekerja dan menafkahi keluarga. Pendiri perusahaan melihat bahwa di Bali peran wanita selama ini sangat penting secara finansial. Sayangnya, berbekal pendidikan SMP/SMA mungkin cukup sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Hal inilah yang melandasi kami untuk memperkerjakan mereka,” ujar Erwin.

Menurutnya, pemberdayaan tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan pihaknya dalam membangun hubungan dengan masyarakat. Tidak terbatas pada pemberdayaan perempuan, kontribusi sosial yang memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat luas juga dilakukan.

“Pak Made Maruta kan tidak bisa berjalan sudah cukup lama karena diabetes. Harapannya ini membuka kebahagiaannya sendiri. Bagaimanapun manusia adalah makhluk aktif, jadi kalau dipaksa diam pasti ada yang hilang. Jadi ini bukan hanya memberi kaki palsu, tapi juga kami harap dapat memberi hidup baru,” ungkapnya. (Wirnaya/balipost)

BAGIKAN