
DENPASAR, BALIPOST.com – Rektor Universitas Warmadewa (Unwar), Prof. Dr. Ir. I Gde Suranaya Pandit, MP., menepis anggapan bahwa perguruan tinggi menjadi salah satu pencetak pengangguran. Menurutnya, perguruan tinggi justru memiliki tanggung jawab menyiapkan lulusan agar memiliki kompetensi, keterampilan, serta kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan dunia kerja.
Prof, Pandit mengatakan, hingga saat ini Unwar telah menghasilkan sekitar 50.114 alumni yang tersebar di berbagai bidang pekerjaan. Para lulusan tersebut bekerja di sektor swasta maupun pemerintahan, menjadi aparatur sipil negara (ASN), hingga mengembangkan usaha secara mandiri.
“Data itu kita peroleh melalui sebuah sistem yang kita kenal dengan tracer study. Hampir setiap waktu, setiap momen, kita mendata alumni-alumni yang dihasilkan, khususnya alumni Universitas Warmadewa,” ujarnya, Kamis (10/9).
Berdasarkan hasil tracer study tersebut, Prof, Pandit menyebut tingkat serapan lulusan Unwar di dunia kerja telah mendekati 80 persen. Ia menilai angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar lulusan mampu memasuki dunia kerja dan mengembangkan karier di berbagai sektor.
Menurutnya, kesiapan alumni tidak hanya dibangun melalui pembelajaran akademik. Mahasiswa Unwar juga dibekali dengan nilai dan semangat untuk menunjukkan kinerja terbaik di mana pun mereka bekerja.
Selain kompetensi akademik, Unwar juga membekali lulusan dengan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) yang dalam keterangannya disebut sebagai dokumen pendamping kompetensi. Bekal tersebut diharapkan menjadi bukti tambahan mengenai keterampilan yang dimiliki mahasiswa selain ijazah dan pengetahuan sesuai bidang studinya.
Prof. Pandit menegaskan, Unwar juga memiliki pusat karier yang berada di lingkungan kemahasiswaan di bawah koordinasi Wakil Rektor III. Pusat karier tersebut berperan membantu lulusan memperoleh informasi serta akses terhadap kesempatan kerja.
“Kalau kita lihat, sebelum enam bulan mereka sudah mendapatkan pekerjaan. Jadi itu datanya ada. Karena mereka dilengkapi dengan SKPI dan didampingi oleh pusat karier,” jelasnya.
Upaya mempercepat penyerapan lulusan juga dilakukan melalui jejaring kerja sama Unwar dengan berbagai perusahaan dan institusi. Bahkan, setiap momentum wisuda, sejumlah mitra kerja disebut kerap memberikan informasi mengenai lowongan atau peluang rekrutmen kepada para lulusan.
Prof. Pandit mencontohkan sejumlah perbankan memberikan informasi kesempatan kerja bagi lulusan yang berminat. Menurutnya, jejaring tersebut menjadi salah satu upaya kampus mempertemukan lulusan dengan kebutuhan tenaga kerja.
Tak hanya mengandalkan pusat karier, Unwar juga memiliki jaringan keluarga besar alumni yang tersebar di berbagai daerah. Jejaring tersebut bahkan disebut menjangkau kawasan Indonesia Timur hingga Timor-Leste.
“Khususnya yang saya langsung lihat sampai ke daerah timur, Flores, Kupang, Sumba, sampai ke Timor-Leste, mereka punya komisariat alumni yang membantu para lulusan kita memberikan informasi terkait kesempatan kerja,” ujarnya.
Para alumni juga dibekali kartu identitas alumni yang disebut KABAWAR. Kartu tersebut menjadi identitas sebagai bagian dari keluarga besar alumni Warmadewa sekaligus memudahkan lulusan terhubung dengan jejaring alumni ketika berada di berbagai daerah.
Prof. Pandit menilai keberadaan jejaring alumni tersebut memberikan keuntungan bagi lulusan, terutama ketika mereka ingin mencari informasi mengenai peluang kerja atau mengembangkan jejaring profesional di daerah tujuan.
Selain memperkuat akses kerja setelah lulus, pihaknya juga mendorong mahasiswa memperoleh pengalaman kerja sejak masih menempuh pendidikan. Sejumlah mitra kerja disebut telah memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengikuti program magang.
“Bahkan ada beberapa mitra yang selalu memohon, mereka belum selesai kuliah, sudah diminta mahasiswa untuk magang di berbagai tempat,” katanya.
Program magang tersebut, lanjut Prof. Pandit, tidak hanya berlangsung di dalam negeri. Sejumlah mahasiswa juga memperoleh kesempatan magang di luar negeri. Pengalaman tersebut dinilai penting untuk meningkatkan keterampilan sekaligus kemampuan mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan kerja yang berbeda.
Prof. Pandit menilai persoalan lulusan perguruan tinggi yang belum mendapatkan pekerjaan tidak dapat digeneralisasi sebagai kegagalan perguruan tinggi dalam mencetak sumber daya manusia.
Ia mengakui berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) masih terdapat angka pengangguran dari kalangan lulusan perguruan tinggi. Namun, menurutnya, kondisi tersebut harus dilihat dalam konteks ketenagakerjaan secara lebih luas.
“Kalau kita lihat data BPS, sarjana pengangguran itu cukup besar angkanya. Namun, dalam konteks perguruan tinggi wajib, khususnya Warmadewa, kami wajib memfasilitasi, menyalurkan alumni untuk siap bekerja di mana pun mereka diterima,” tegasnya.
Ia menambahkan, upaya tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai institusi, baik pemerintah, perusahaan swasta maupun pelaku UMKM. Menurutnya, masih banyak mitra yang terbuka untuk menerima lulusan Unwar sesuai kompetensi yang dimiliki.
Karena itu, ia menegaskan bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak semata-mata diukur dari jumlah mahasiswa yang lulus, tetapi juga dari kemampuan kampus memastikan lulusan memiliki kompetensi dan akses untuk memasuki dunia kerja.
“Semua tersalur melalui kerja sama Warmadewa dengan berbagai institusi, mitra, swasta maupun negeri, UMKM apalagi. Itu cukup banyak dan mereka siap untuk menerima alumni-alumni Universitas Warmadewa,” pungkasnya. (Ketut Winata/balipost)









