Gubernur Bali, Wayan Koster. (BP/Istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali, Wayan Koster menegaskan perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak boleh menggeser kecerdasan manusia dan kecerdasan budaya. Teknologi, dikatakan, harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat nilai, identitas, tradisi, dan karakter masyarakat.

“Kecerdasan buatan tidak boleh menggantikan kecerdasan budaya. Justru kecerdasan buatan harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kecerdasan manusia dan kecerdasan budaya,” tegas Gubernur Koster saat membuka Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (TI IPLBI) ke-14, di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (4/9).

Menurut Gubernur Koster, prinsip tersebut menjadi semakin penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perubahan iklim, ancaman bencana, serta kompleksitas tantangan pembangunan di masa mendatang. Pengembangan lingkungan binaan Bali tidak boleh hanya mengejar kemajuan teknologi dan pembangunan fisik, tetapi harus tetap menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam dan kebudayaan.

Baca juga:  Gubernur Koster Atensi Khusus Nusa Penida

Karena itu, pembangunan Bali harus berpijak pada karakter dan jati diri Bali sebagaimana diarahkan dalam Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun 2025–2125. Haluan tersebut menempatkan keberlanjutan Alam Bali, Manusia Bali, dan Kebudayaan Bali sebagai bagian penting pembangunan jangka panjang.

Koster juga menekankan nilai-nilai Sad Kerthi sebagai landasan etis dan ekologis dalam pengembangan lingkungan binaan. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan manusia, kelestarian alam, dan keberlanjutan kebudayaan.

Ia secara khusus mendorong perguruan tinggi dan kalangan peneliti untuk menggali dan mengembangkan pengetahuan lokal Bali. Arsitektur Tradisional Bali dan sistem Subak, menurutnya, merupakan pengetahuan lokal yang memiliki nilai penting untuk terus dikaji melalui riset, inovasi, serta pemanfaatan teknologi.

Baca juga:  Wisatawan Tiongkok Ditemukan Meninggal Saat Main Snorkling

“Modernisasi berbasis kebudayaan bukan kembali ke masa lalu, tetapi membawa nilai-nilai terbaik masa lalu untuk menjawab tantangan masa depan,” ujarnya.

Selain mendorong penguatan pengetahuan lokal, Koster meminta hasil penelitian mengenai lingkungan binaan tidak berhenti pada publikasi ilmiah. Riset harus mampu diterjemahkan menjadi solusi yang dapat diterapkan di lapangan.

Solusi tersebut dapat berupa prototipe, desain, standar, kebijakan, teknologi, hingga model pembangunan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting untuk membangun lingkungan binaan Bali yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim maupun bencana. Pada saat yang sama, pembangunan harus diarahkan agar semakin hijau, rendah karbon, dan berkelanjutan.

Baca juga:  Presiden Jokowi Direncanakan Groundbreaking Tol Jagat Kerthi Bali

Untuk mewujudkan hal tersebut, Koster menilai diperlukan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, arsitek, perencana, dunia usaha, desa adat, masyarakat, serta generasi muda perlu terlibat dalam membangun ekosistem inovasi lingkungan binaan.

Melalui kolaborasi itu, Bali diharapkan dapat berkembang sebagai laboratorium pengembangan lingkungan binaan masa depan. Laboratorium tersebut mempertemukan kemajuan teknologi dan AI dengan kebudayaan, pengetahuan lokal, serta prinsip pembangunan berkelanjutan.

“Bali 100 Tahun bukan hanya proyek pembangunan. Bali 100 Tahun adalah proyek peradaban,” tegas Koster. (Ketut Winata/balipost)

 

BAGIKAN