
SINGASANA, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten Tabanan melalui Dinas Kesehatan menyiapkan anggaran Rp220 juta untuk memperkuat skrining tuberkulosis (TBC) yang akan diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kebijakan ini dibahas dalam Forum Konsultasi Publik Dinas Kesehatan Tabanan, Senin (31/8), karena penemuan kasus TBC masih perlu ditingkatkan untuk memutus rantai penularan di masyarakat.
Sekretaris Dinas Kesehatan Tabanan, dr. Wayan Arya Putra Manuaba mewakili Dinas Kesehatan Tabanan mengatakan, integrasi skrining dengan CKG diharapkan dapat menemukan penderita kasus TBC yang selama ini belum terdeteksi. Dengan demikian, pasien bisa segera mendapatkan pengobatan sesuai ketentuan.
Menurut Arya, capaian pencarian terduga TBC di Tabanan sebenarnya sudah melampaui target. Namun, hal tersebut belum berarti seluruh penderita TBC telah ditemukan. Masih ada kemungkinan penderita berada di masyarakat dan berpotensi menularkan penyakit. “Temuan kasus TBC belum sesuai dengan target yang ditetapkan pemerintah. Di satu sisi, capaian mencari tersangka pasien TBC sudah melampaui target,” ujarnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Tabanan, pada 2024 estimasi terduga TBC sebanyak 3.000 kasus, sedangkan yang berhasil ditemukan mencapai 3.400 kasus atau 113,3 persen. Pada 2025, estimasi sebanyak 2.913 kasus dan yang ditemukan mencapai 3.566 kasus atau 122,4 persen.
Sementara hingga Agustus 2026, estimasi terduga TBC tercatat 1.883 kasus. Adapun yang berhasil ditemukan sebanyak 2.015 kasus atau mencapai 107 persen. Meski angka penemuan tersebut telah melampaui 100 persen, Dinkes tetap mendorong skrining diperluas. Sebab, penemuan terduga TBC menjadi bagian penting dalam upaya mencegah penularan.
Arya mengatakan TBC membutuhkan pengobatan yang panjang dan harus dilakukan secara rutin. Dalam pelaksanaannya, masih terdapat pasien yang mengalami kendala, seperti mual dan muntah akibat obat. Kondisi tersebut dapat menyebabkan pengobatan tidak tuntas dan meningkatkan risiko kegagalan terapi.
Skrining TBC sebelumnya telah dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Baturiti. Dinkes juga melakukan skrining di Lapas Tabanan sebanyak tiga kali dengan sasaran sekitar 300 orang. Lokasi tersebut menjadi sasaran karena sebelumnya pernah ditemukan kasus TBC sehingga dinilai memiliki potensi penularan. “Harapannya pasien yang belum terdeteksi di masyarakat bisa ditemukan untuk dilakukan pengobatan sesuai ketentuan,” katanya.
Selain penemuan kasus, Dinkes juga menyoroti rendahnya capaian terapi pencegahan bagi masyarakat yang pernah melakukan kontak dengan pasien TBC. Hingga kini, capaian terapi pencegahan tersebut baru sekitar 16 persen, sementara target Provinsi Bali mencapai 40 persen.
Kondisi ini dinilai perlu mendapat perhatian. Sebab, orang yang melakukan kontak dengan pasien TBC berpotensi telah terpapar kuman dan dapat berkembang menjadi kasus baru.
Dengan integrasi skrining TBC dan CKG, Dinkes Tabanan berharap penemuan kasus dapat dilakukan lebih cepat. Bukan hanya mengejar angka penemuan, tetapi memastikan penderita mendapatkan pengobatan dan rantai penularan TBC dapat diputus. (Dewi Puspawati/balipost)










