Suasana di Taman Maha Kopi Bali yang dikemas untuk kegiatan Wedding Party. (BP/Bit)

SINGASANA, BALIPOST.com – Meningkatnya geliat pariwisata di Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, mendorong masyarakat setempat mulai mengambil peran dalam menikmati perputaran ekonomi wisata. Semangat tersebut salah satunya diwujudkan melalui pengembangan usaha kuliner Maha Kopi Bali yang menyasar wisatawan sekaligus membuka ruang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat lokal.

Penggagas sekaligus Owner Maha Kopi Bali, I Dewa Made Maharjana, mengatakan kehadiran usaha yang mulai efektif beroperasi April 2026 itu berangkat dari keinginan agar masyarakat Kelating tidak hanya menjadi penonton ketika perkembangan pariwisata mulai masuk ke wilayah mereka.

“Jangan sampai kita hanya menjadi penonton. Karena itu kami mulai membangun dari desa sendiri,” ujar Maharjana, Minggu (30/8).

Menurut dia, perkembangan pariwisata di Kelating dalam beberapa tahun terakhir mulai terlihat dengan semakin banyaknya vila pribadi dan guest house milik warga. Kondisi tersebut diikuti meningkatnya wisatawan, terutama wisatawan mancanegara. Namun, perkembangan akomodasi tersebut belum sepenuhnya diimbangi fasilitas kuliner dan tempat bersantai yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan.

Sejumlah pengelola vila dan guest house, kata dia, sempat mengeluhkan minimnya pilihan restoran maupun tempat nongkrong di sekitar Kelating. Warung makan memang telah tersedia, tetapi belum banyak yang menawarkan konsep serta suasana yang menjadi kebutuhan wisatawan.

Baca juga:  Kawasan Wisata Bromo Tutup Saat Nyepi

Akibatnya, wisatawan yang menginap di Kelating harus mencari tempat makan dan bersantai ke kawasan lain, seperti Canggu, Ubud maupun destinasi lainnya. Celah tersebut kemudian dilihat sebagai peluang bagi masyarakat lokal untuk ikut mengambil bagian dalam rantai ekonomi pariwisata.

Maha Kopi Bali yang berada di Jalan Uma Taman, Banjar Dangin Jalan, Desa Kelating, dibangun di atas lahan sekitar 2 are dengan bangunan tiga lantai. Sebelum mulai beroperasi, tempat tersebut terlebih dahulu menjalani upacara pemelaspasan pada Maret 2026.

Konsep yang ditawarkan memadukan suasana Bali, panorama alam serta ruang rekreasi dan pertemuan. Dari lantai tiga, pengunjung dapat menikmati pemandangan gunung, persawahan, matahari terbit hingga matahari terbenam. Saat cuaca cerah, panorama golden sunset menjadi salah satu daya tarik, termasuk pemandangan bulan purnama.

Sementara lantai dua disiapkan sebagai ruang pertemuan berkapasitas sekitar 50 orang yang dapat digunakan untuk meeting, gathering maupun kegiatan privat. Area luar juga dilengkapi taman yang dipersiapkan untuk wedding party dan berbagai kegiatan lainnya.

Baca juga:  Pariwisata Meningkat, Bandara Ngurah Rai Layani 2 Juta Penumpang

Dari sisi kuliner, Maha Kopi Bali menyajikan menu perpaduan makanan Indonesia dan Western food. Harga tetap diarahkan terjangkau bagi pasar lokal, kendati pengelola secara bertahap mulai memperkuat segmen wisatawan mancanegara.

Untuk menambah daya tarik pada malam hari, pengelola menghadirkan musik akustik setiap malam Minggu. Saat ini kunjungan rata-rata mencapai 15 hingga 20 orang per hari, dengan tren peningkatan sekitar 15 persen setiap bulan.

Maharjana mengatakan pihaknya masih berupaya mendatangkan lebih banyak wisatawan, khususnya wisatawan asing. Kendati demikian, masyarakat lokal tetap menjadi bagian penting dari pasar yang dibidik.

Yang menjadi perhatian, seluruh sumber daya manusia yang bekerja di Maha Kopi Bali berasal dari lokal Bali. Menurut Maharjana, langkah tersebut penting agar pertumbuhan usaha pariwisata turut memberikan manfaat langsung kepada masyarakat melalui pembukaan lapangan pekerjaan.

Ia menegaskan, membangun usaha di desa tidak semata-mata bertujuan mengejar keuntungan bisnis. Lebih dari itu, masyarakat lokal harus memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam perkembangan pariwisata yang berlangsung di daerahnya sendiri.

Baca juga:  Kajati Minta Kajari Klungkung Tancap Gas Petakan Potensi Hukum Pertanahan dan Pariwisata

“Warga Bali jangan hanya menjadi penonton, tetapi ikut menikmati kue pariwisata Bali,” tegasnya.

Menurutnya, tersedianya lapangan pekerjaan di desa juga memiliki dampak terhadap kehidupan sosial dan adat. Selama ini, salah satu tantangan dalam kegiatan adat adalah banyaknya generasi muda yang bekerja jauh dari desa. Kondisi tersebut membuat mereka terkadang kesulitan mengikuti kegiatan ‘ngayah’.

Dengan semakin terbukanya lapangan pekerjaan di desa, generasi muda memiliki pilihan untuk bekerja sekaligus tetap dekat dengan lingkungan tempat tinggal dan kegiatan adat.

“Ketika kerja dan tinggal di daerah sendiri, kegiatan adat bisa lebih gampang,” katanya.

Maharjana berpandangan pembangunan ekonomi berbasis desa menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga keajegan Bali. Pertumbuhan pariwisata, menurut dia, tidak cukup hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga dari seberapa besar masyarakat lokal mendapatkan manfaat.

“Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjaga keajegan Bali kalau itu memang mau. Kami ingin ekonomi hidup, lapangan kerja tumbuh, dan nama Kelating ikut terangkat melalui pariwisata,” pungkasnya. (Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN