Prosesi upacara Melaspas Tetaringan/Tetangunan, Ngingsah/Nyangling, Negtegang Karya, Mepasang Sunari, Nunas Tirta Pengandeg, dan Yasa Kerti Paibon Bedauh, Desa Adat Karangsari, Rabu (26/8). (BP/Istimewa)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Paibon Bedauh, Desa Adat Karangsari, Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, menggelar rangkaian Karya Ngenteg Linggih, Mamungkah, Mapadudusan, Wrahaspati Kalpa Agung Panca Rupa Panca Kelud Pamrajan Arya Kanuruhan (Pangeran Tangkas Kori Agung).

Rangkaian karya berlangsung mulai 12 Agustus hingga 13 September 2026. Puncak karya dijadwalkan pada Rabu, 9 September 2026.

Salah satu tahapan penting dilaksanakan pada Rabu (26/8), yakni Melaspas Tetaringan/Tetangunan, Ngingsah/Nyangling, Negtegang Karya, Mepasang Sunari, Nunas Tirta Pengadeg, dan Yasa Kerti.

Ketua Panitia, I Wayan Budi Mustika, menjelaskan, Melaspas Tetaring/Tetangunan memiliki makna penyucian terhadap bangunan yang baru dibuat atau dipersiapkan untuk kegiatan upacara. Prosesi tersebut dimaknai sebagai upaya membersihkan dan menetralisir unsur-unsur negatif serta memohon keselamatan dan keberkahan.

Sementara Ngingsah atau Nyangling dimaknai sebagai bagian dari proses penyempurnaan bangunan sekaligus permohonan perlindungan terhadap berbagai unsur alam. Adapun Negtegang Karya menjadi simbol dimulainya atau ditegakkannya sebuah karya agar memperoleh restu dan keselamatan sehingga seluruh rangkaian dapat berjalan lancar serta memberikan manfaat.

Baca juga:  Nusa Penida Dipadati Wisatawan, Kemacetan Lalin Cukup Parah

Kemudian, Mepasang Sunari melambangkan kemakmuran, keindahan, sekaligus penyambutan kehadiran kekuatan spiritual yang diharapkan memberikan berkah. Sedangkan Nunas Tirta Pengandeg menjadi bagian dari prosesi penyucian bangunan sekaligus memohon perlindungan dan keselamatan.

Dikatakan, seluruh rangkaian upacara tersebut merupakan bagian integral dari tradisi dan kehidupan spiritual masyarakat Bali. Karya tersebut menjadi momentum untuk menjaga keselarasan antara manusia, alam, dan kekuatan niskala, sekaligus memohon keselamatan, keberkahan, serta kesejahteraan.

Budi Mustika mengungkapkan bahwa Rangkaian karya tersebut sebelumnya telah diawali pada Rabu (12/8) melalui Matur Piuning, Maguru Piduka, Nuasen Karya, Nyukat Karang, Naceb Tetaring, dan Molongin Sunari. Sedangkan, pada Selasa (25/8) telah dilaksanakan Nuur Tirta Pemuket.

Baca juga:  Bupati Badung Karya Ngenteg Linggih di Pura Batur Desa Adat Canggu

Memasuki September, rangkaian karya dilanjutkan pada Rabu (2/9) dengan Ngemedalang Pralingga Ida Batara, Nuur Batara Tirta, dan Mapepada Caru. Sehari kemudian, Kamis (3/9), kembali dilaksanakan Mapepada Caru yang melibatkan Ida Pandita Mpu Satya Darma Siddhi Nata Sagota bersama Jro Mangku, serati, panitia, dan krama.

Pada Jumat (4/9), pelaksanaan karya memasuki tahapan Mecaru Panca Rupa-Panca Kelud, Melaspas Wewangunan Mapadudusan Alit, Mendem Pedagingan, dan Pengingkupan.

Selanjutnya, pada Senin (7/9) dilaksanakan Melasti, Memasar, Memendak, dan Ngaturang Dapetan. Rangkaian berlanjut pada Selasa (8/9) melalui Mapepada Karya.

Puncak karya pada Rabu (9/9) menjadi tahapan utama dalam seluruh rangkaian upacara. Pada hari tersebut dilaksanakan Ngenteg Linggih, Piodalan, Pralingga Tedun ring Natar Murwa Daksina, Tedun ring Pemrayunan, Mapedanaan, dan Pawintenan.

Baca juga:  Bupati Jembrana Hadiri Ngenteg Linggih Desa Adat Pulukan

Pelaksanaan puncak karya akan dipuput Ida Pandita Rsi Agung Dwijaksara dan Ida Pandita Mpu Satya Darma Siddhi Nata Sagota, dan diikuti oleh Jro Mangku, serati, panitia, serta krama.

Usai puncak karya, rangkaian dilanjutkan dengan Nganyarin 1 pada Kamis (10/9) dan Nganyarin 2 pada Jumat (11/9).

Kemudian, pada Sabtu (12/9) dilaksanakan Makebat Daun, Nyenuk, Penyineban, Nuek Bagia Pula Kerti, Rsi Bhojana, dan Nunas Tirta Pengenduh. Seluruh prosesi tersebut menjadi bagian dari tahapan penutup rangkaian karya.

Rangkaian terakhir dijadwalkan pada Minggu (13/9) melalui Nyegara Gunung lan Meajar-ajar.

Bagi krama Paibon Bedauh, seluruh tahapan karya tidak hanya menjadi pelaksanaan ritual keagamaan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kebersamaan, gotong royong, serta kesinambungan tradisi dan warisan leluhur di tengah kehidupan masyarakat Desa Adat Karangsari. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN