Penampilan salah satu peserta Utsawa Dharma Gita. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar sebagai ruang pelestarian tradisi lisan sekaligus penguatan nilai agama, seni, sastra, dan karakter masyarakat Bali. Mengusung tema “Dharmagita Atmanam Dharma”, kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada 11–16 September 2026 di UPTD Taman Budaya Provinsi Bali.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, mengatakan dharmagita memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan nilai budaya Bali.

Menurutnya, dharma gita tidak semata-mata merupakan seni suara atau pertunjukan sastra keagamaan. Tradisi tersebut juga menjadi media pembelajaran moral, etika, sradha dan bhakti yang diwariskan secara turun-temurun.

“Melalui dharma gita, nilai-nilai yang bersumber dari sastra keagamaan disampaikan dalam bentuk nyanyian suci yang memiliki kekuatan estetika sekaligus spiritual. Harapannya, nilai tersebut mampu membentuk kesadaran diri dan karakter masyarakat,” ujarnya, Senin (24/8).

Ia menjelaskan, tema memiliki keterkaitan dengan semangat Atma Kerthi dalam pembangunan kebudayaan Bali. Keduanya menempatkan manusia sebagai bagian penting dalam proses pemuliaan kehidupan melalui penguatan nilai budaya dan spiritual.

Baca juga:  Jelang Hari Raya, Harga Pisang dan Unggas “Meroket”

Karena itu, pelaksanaan UDG tidak hanya diarahkan pada kemampuan peserta membaca sloka, melantunkan kakawin, atau menampilkan seni vokal keagamaan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun generasi Bali yang memahami akar budayanya dan mampu mengimplementasikan nilai dharma dalam kehidupan modern.

Kurator UDG XXXIII, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, menegaskan UDG merupakan bagian dari upaya penguatan dan pemajuan kebudayaan Bali.

“UDG tidak sekadar menjadi ajang perlombaan, tetapi menjadi ruang pelestarian tradisi lisan sekaligus penguatan nilai agama, seni, sastra, dan karakter generasi muda,” jelasnya.

Menurutnya, pelaksanaan UDG juga sejalan dengan amanat Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali. Regulasi tersebut memberikan perhatian terhadap berbagai bentuk warisan budaya, antara lain sloka, palawakya, gaguritan, kakawin, kidung, dan dharma wacana.

UDG kali ini melibatkan peserta dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak, remaja hingga dewasa. Peserta berasal dari kalangan pelajar maupun masyarakat umum. Mereka tidak hanya mengikuti perlombaan, tetapi juga menjalani proses pembinaan untuk memahami makna dharmagita yang dibawakan.

Baca juga:  Denpasar Rancang Penggunaan PeduliLindungi di Kantor Pemerintah

Sebanyak 11 bidang lomba dengan 37 kategori disiapkan. Materi yang dilombakan mencakup membaca sloka, palawakya, kakawin, kidung, nyanyian keagamaan Hindu, gaguritan, dharma wacana Bahasa Bali, dharma wacana Bahasa Inggris, menghafal sloka, dharma wiwada, serta dharma carita.

Para peserta terbaik nantinya akan dipersiapkan menjadi wakil Provinsi Bali dalam ajang Utsawa Dharma Gita tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 2027 di Palu, Sulawesi Tengah.

Selain perlombaan, UDG XXXIII juga dikemas dengan sejumlah kegiatan pendukung. Pembukaan pada 11 September 2026 oleh Gubernur Bali akan dimeriahkan sasolahan yang dipersembahkan Sanggar Seni Kokar.

Pertunjukan tersebut menjadi penanda bahwa UDG tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem seni dan budaya Bali.

Rangkaian sasolahan kembali digelar pada 15 September melalui kolaborasi dengan UPTD Taman Budaya Provinsi Bali. Pertunjukan tersebut akan memadukan drama, tari klasik Bali, serta iringan gamelan sebagai bentuk pertemuan antara tradisi dan kreativitas seni pertunjukan.

Baca juga:  Lestarikan dan Kembangkan Seni Tradisi, Disbud Badung Gelar Utsawa Dharma Gita

Sementara itu, inovasi baru berupa penyelenggaraan seminar dharma gita pada 15 September 2026. Seminar tersebut menjadi ruang akademik untuk membahas nilai, perkembangan, serta strategi pelestarian dharma gita agar tetap relevan dengan perubahan zaman.

Seminar akan melibatkan sekitar 300 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, pendidik, dan masyarakat umum. Melalui forum tersebut, dharmagita tidak hanya dipertunjukkan dan dilombakan, tetapi juga dikaji dan dipahami maknanya.

Rangkaian acara dijadwalkan berakhir pada 16 September 2026 dengan penyerahan penghargaan kepada para juara. Penghargaan direncanakan diberikan Gubernur Bali bersama Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Melalui UDG XXXIII, Pemerintah Provinsi Bali berharap dharmagita tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Tradisi, kata dia, tidak cukup hanya diwariskan, tetapi juga harus dipahami, dihayati, dan mampu memberikan makna bagi kehidupan generasi masa kini maupun masa depan.

Dengan demikian, UDG diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan perlombaan, melainkan menjadi ruang regenerasi, pembelajaran, dan penguatan identitas budaya Bali melalui tradisi lisan yang terus hidup di tengah dinamika zaman.  (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN