
DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah Provinsi Bali bersiap melakukan uji coba 11 unit bus listrik sebagai bagian dari pengembangan transportasi publik ramah lingkungan di Bali. Uji coba tersebut ditargetkan mulai dilakukan pada Oktober 2026 dengan rute awal Koridor I Trans Sarbagita, yakni kawasan GOR Ngurah Rai hingga Garuda Wisnu Kencana (GWK).
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bali, I Kadek Mudarta, mengatakan penambahan bus listrik tersebut berbeda dengan skema layanan Bus Trans Metro Dewata (TMD). Jika TMD menggunakan skema pembelian layanan, bus listrik yang akan diuji coba merupakan aset yang berada di bawah brand Sarbagita.
Menurutnya, Bali memperoleh total 11 unit bus listrik yang akan digunakan dalam program tersebut. Pengadaan bus listrik ini merupakan bagian dari proyek Bali E-Mobility yang mendapatkan dukungan pendanaan dari pemerintah Korea melalui kerja sama dengan Global Green Growth Institute (GGGI).
“Bus listrik mungkin kita akan mulai dicobakan. Targetnya sih di bulan depan, di bulan Oktober,” ujar Kadek Mudarta, Minggu (23/8).
Mudarta menjelaskan, berdasarkan kajian awal, uji coba bus listrik akan difokuskan pada Koridor I Trans Sarbagita. Rute tersebut menghubungkan kawasan GOR Ngurah Rai dengan kawasan GWK.
“Kalau berdasarkan kajian untuk bus listrik itu koridor satunya kita, jadi koridor yang dari GOR Ngurah Rai ke Unud dan GWK,” jelasnya.
Terkait tarif selama masa uji coba, Dishub Bali masih akan memastikan skema yang akan diterapkan. Mudarta belum memastikan apakah masyarakat akan dikenakan tarif atau layanan diberikan secara gratis selama masa pengujian.
“Nanti kita cek dulu skemanya. Sebelum bisa saya katakan apakah gratis atau apakah nanti sudah langsung berbayar, tergantung skemanya,” ujarnya.
Namun, apabila bus listrik nantinya telah masuk dalam skema layanan transportasi reguler, tarif yang diberlakukan akan mengikuti ketentuan tarif transportasi publik yang berlaku. Tarif tersebut akan dibedakan berdasarkan kategori penumpang, seperti penumpang umum, pelajar, dan penyandang disabilitas.
Dari sisi infrastruktur, keberadaan bus listrik tersebut tidak akan mengubah halte apabila rute yang digunakan sama dengan layanan Sarbagita. Halte yang digunakan akan mengikuti rute yang telah ada.
“Kalau rutenya sama, haltenya sama,” kata Mudarta.
Perbedaan utama terdapat pada kebutuhan fasilitas pengisian daya. Menurut Mudarta, akan disiapkan fasilitas charging di lokasi pemberangkatan awal di GOR, sementara fasilitas pengisian daya lainnya disiapkan di lingkungan Dinas Perhubungan untuk pengisian pada malam hari.
“Kalau di bus listrik, di pemberangkatan awal di GOR nanti ada charging-nya. Untuk malam hari di Dinas Perhubungan ada charger-nya,” jelasnya.
Dikatakan, program tersebut menjadi salah satu langkah Bali dalam mendorong penggunaan kendaraan listrik pada layanan transportasi publik. Dengan 11 unit bus listrik yang disiapkan, pemerintah daerah terlebih dahulu akan menguji penerapan layanan tersebut di satu koridor sebelum menentukan pengembangan berikutnya. (Ketut Winata/balipost)










