
BANGLI, BALIPOST.com – Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Bangli berencana melakukan kajian untuk menanggulangi masalah lalat di kawasan Kintamani pada tahun 2027 mendatang. Langkah tersebut diambil menyusul banyaknya keluhan dari masyarakat, pelaku usaha, hingga wisatawan terkait tingginya populasi lalat di Kintamani dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Brida Kabupaten Bangli, Nengah Wikrama Rabu (19/8), membenarkan adanya rencana tersebut. Dikatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Bangli telah menyiapkan alokasi anggaran Rp50 untuk melakukan kajian itu.
Dijelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir muncul keluhan dari masyarakat, wisatawan, dan pelaku usaha terkait meningkatnya populasi lalat di beberapa wilayah Kintamani. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat, kenyamanan lingkungan, citra pariwisata, serta aktivitas ekonomi lokal.
Menurutnya tingginya populasi lalat dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pengelolaan limbah peternakan yang belum optimal, penumpukan sampah organik, kondisi sanitasi lingkungan, serta faktor iklim dan cuaca yang mendukung perkembangbiakan lalat. “Apabila tidak ditangani secara tepat, permasalahan ini dapat berdampak pada penurunan kualitas lingkungan dan daya saing kawasan wisata Kintamani,” ujarnya.
Oleh karena itu, lanjut Wikrama diperlukan kajian yang komprehensif untuk mengidentifikasi tingkat kepadatan lalat, faktor-faktor penyebabnya, wilayah sebaran yang terdampak, serta alternatif strategi pengendalian yang efektif dan berkelanjutan sebagai dasar penyusunan kebijakan dan program penanganan.
Pelaksanaan kajian nantinya akan dilakukan Brida dengan menggandeng pihak lain. Namun, sejauh ini Brida belum memastikan pihak yang akan diajak bekerjasama. (Dayu Swasrina/balipost)










