
SINGASANA, BALIPOST.com – Populasi tupai yang cukup banyak hingga mengganggu tanaman perkebunan mendorong petani di Desa Selabih, Kecamatan Selemadeg Barat, Tabanan, menggelar lomba menembak tupai. Uniknya, kegiatan tersebut tidak hanya untuk menekan hama, tetapi sekaligus menjadi ajang penggalangan dana untuk mendukung pelaksanaan karya ngusaba desa dan ngusaba nini.
Ketua Panitia, I Made Subagia, mengatakan, tupai menjadi salah satu hama yang cukup meresahkan petani karena menyerang berbagai tanaman perkebunan. Kondisi itu berpotensi menurunkan hasil panen dan menambah kerugian petani.
Lomba dijadwalkan berlangsung 20 September 2026 di kawasan perkebunan Desa Adat Bukit Tumpeng, Desa Selabih. Peserta akan dibagi dalam kelompok dan turun langsung ke areal perkebunan dengan didampingi pemandu. “Ini hama, sering ditembak karena populasinya cukup tinggi, terutama di kawasan Bukit Tumpeng,” ujar Subagia, Rabu (19/8).
Menurut dia, wilayah Selabih cukup luas dan sebagian besar merupakan kawasan perkebunan. Tanaman kelapa, cokelat, durian, manggis hingga pisang menjadi sasaran tupai.
Selain pengendalian hama, kegiatan tersebut juga dikemas untuk menggalang dana kegiatan adat. Panitia sekaligus ingin menghidupkan kembali tradisi masyarakat petani yang sejak dahulu melakukan perburuan tupai secara bersama-sama.
Tradisi itu, kata Subagia, sudah dikenal masyarakat Selabih sejak sekitar 1970-an melalui sekaa semal. Kelompok tersebut beranggotakan petani yang secara bersama-sama turun ke kebun untuk memburu tupai yang merusak tanaman.
Kegiatan serupa kemudian pernah dikemas menjadi lomba pada 2020 dalam rangkaian ngenteg linggih. Saat itu, peserta tidak hanya berasal dari Selabih, tetapi juga sejumlah daerah lainnya.
Dalam pelaksanaan tahun ini, tupai yang berhasil diburu akan dikumpulkan untuk menentukan pemenang berdasarkan jumlah hasil buruan. Sebagian hasil buruan dapat dibawa pulang peserta dan sebagian lainnya dapat dijual.
Subagia menegaskan, pelaksanaan kegiatan tetap memperhatikan aturan adat dan kearifan lokal. Tidak seluruh kawasan perkebunan dapat dijadikan lokasi perburuan karena terdapat wilayah tertentu yang memiliki aturan berkaitan dengan satwa dan lingkungan. “Peserta juga akan didampingi pemandu dan diawali dengan persembahyangan. Teknis masih kami susun agar lebih maksimal,” tegasnya.
Panitia berharap lomba tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi mampu menekan populasi tupai sekaligus meningkatkan kesadaran petani terhadap pengendalian hama. Di sisi lain, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang kebersamaan masyarakat sekaligus membantu pembiayaan karya ngusaba.
“Selain penggalangan dana untuk kegiatan ngusaba, lewat ajang ini sekaligus edukasi pada masyarakat cara pengendalian hama serta melestarikan kearifan lokal yang sudah ada sejak dulu,” kata Subagia. (Puspawati/balipost)










