Salah satu petani saat memetik cabai di Subak Selisihan, Klungkung. (BP/gik)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Situasi pasar yang tidak menentu dalam dua bulan terakhir, memicu ketidakpastian dalam harga-harga kebutuhan pokok. Salah satunya komoditi cabai.

Harganya kini justru terjun bebas hingga rata-rata Rp 15 ribu per kg. Murahnya harga cabai, membuat petani memilih mencabut satu per satu pohonnya.

Petani di Desa Selisihan, Klungkung sudah melakukannya. Sejumlah petani di Subak Selisihan, tidak mau menunggu lebih lama lagi, untuk mengeksekusi pohon-pohon cabai yang sesungguhnya masih produktif. Sebab, harga cabai sudah amat jatuh.

Salah satu petani, Nengah Sukerni, ditemui di lokasi, Kamis (11/6), mengaku murahnya harga cabai membuatnya ingin segera mengganti tanaman dengan komoditi lainnya. Selain karena harganya murah, langkah peremajaan lahan dengan komoditi baru diambil petani setempat, karena sudah banyak pohon cabai mendadak layu, sebelum petani bisa memetik cabainya.

Baca juga:  Petani di Petang Beralih ke Tanaman Organik

Ini membuatnya ingin segera menggantinya, karena ketika sudah layu, akan mati dan diikuti pohon-pohon lainnya. Jika dipertahankan, maka lahan pertaniannya seluas sekitar 15 are, kurang produktif untuk memenuhi kebutuhan hidup di tengah pandemi COVID-19. “Semuanya akan dicabut, pohon cabainya akan diganti dengan yang lain. Seperti bunga pacah. Meski harganya lebih murah, tetapi tiap hari dibutuhkan. Bunga terlihat lebih menjanjikan dan tahan lebih lama,” kata Sukerni.

Dari 15 are lahan pertaniannya, saat ini hampir setengahnya pohon cabainya sudah layu dan berangsur mati. Di antara pohon cabai itu, ada yang belum sempat dipanen sama sekali.

Baca juga:  Hektaran Cabai di Sidemen Rusak

Akibat keputusannya itu, dia juga harus merugi rupiah dan proses pengolahan lahan, pembibitan, pemeliharaan hingga pupuknya selama dua bulan.

Petani lainnya, Mangku Waspariani, memilih cara lain. Ia memilih melakukan pemetikan lebih awal, saat cabainya masih hijau menghindari kerugian lebih besar.

Banyaknya tanaman cabai yang layu mendadak dan mati, juga dipicu cuaca yang tidak menentu. Sejak seminggu terakhir, wilayah setempat diguyur hujan lebat. Sementara, pada siang hari cuaca sangat panas.

Di tambah situasi pasar, kurang mendukung, dia memilih memetik buah cabai muda dan menjualnya me pasar walau harganya jauh lebih murah. “Setidaknya tidak rugi total. Kalau laku, ada sedikit modal untuk memulai menanam jenis yang lain,” katanya.

Dari enam are lahan miliknya, dari memetik cabai yang masih hijau hanya dapat 2 kg saja. Karena buahnya juga sedikit dan layu. Bahkan tak jarang dia menggratiskan cabainya untuk masyarakat yang lewat dan hendak memintanya karena murahnya harga cabai.

Baca juga:  Suzuki Bangun Kesadaran Siswa SD Bijak Gunakan Plastik

Di pasar, harga cabai hijau hanya sekitar Rp 7 ribu per kg. Hasil panen periode ini benar-benar di luar perkiraan para petani. Padahal, diperiode yang sama tahun lalu, harganya cabai menembus Rp 70 ribu per kg di tingkat petani dan di pasar bisa naik hingga Rp 85 ribu per kg.

Dia menduga, situasi tak menentu di dalam pasar saat ini, tidak terlepas dari pengaruh pandemi COVID-19, yang belum menunjukkan tanda-tanda menghilang. (Bagiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.