Penampilan Sanggar Mada Janu Mukti, Kecamatan Busungbiu, pada PKB 2026. (BP/istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Kisah Jayaprana hingga tradisi I Bulu Pangi dikemas oleh Duta Gong Kebyar Wanita (GKW) Kabupaten Buleleng pada ajang Utsawa Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Sabtu (21/6) malam. Melalui garapan ini, Sanggar Mada Janu Mukti, Kecamatan Busungbiu, tidak hanya menyuguhkan pertunjukan yang memukau, tetapi juga menggabungkan semangat pelestarian tradisi dan kearifan lokal kepada generasi muda.

Tampil di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Denpasar, para seniman asal Busungbiu mampu menghipnotis ratusan penonton yang memadati arena pertunjukan. Balutan busana serba hitam yang dikenakan para penabuh menghadirkan kesan anggun sekaligus berwibawa. Penampilan mereka berpadu harmonis dengan puluhan penari yang mengenakan kostum berwarna cerah, menciptakan sajian artistik yang menarik sejak awal hingga akhir pementasan.

Baca juga:  PKB Ditunda, Puluhan Sekaa Teruna di Badung Pertanyakan Dana Pembinaan

Pembina sekaligus konseptor garapan, Putu Putra menjelaskan, pementasan melibatkan sebanyak 35 penabuh wanita serta puluhan penari. Mereka membawakan tiga materi utama yang saling berkaitan sebagai representasi kekayaan budaya Buleleng.

Garapan diawali dengan tabuh kreasi Pekak Aji, sebuah komposisi yang mengangkat aktualisasi tokoh legenda Jayaprana dalam cerita rakyat Buleleng. Permainan gamelan yang dinamis dipadukan dengan kekompakan para penabuh menghadirkan nuansa megah dan penuh energi, sehingga mampu menghidupkan kembali kisah yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Baca juga:  Tradisi Male Tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Penampilan kemudian dilanjutkan dengan Tari Janurstawa, sebuah tari kreasi yang menggambarkan filosofi janur sebagai simbol kehidupan yang memiliki banyak manfaat bagi masyarakat Bali. Lewat gerak yang anggun dan ekspresif, para penari menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga nilai-nilai budaya yang tumbuh dari kehidupan masyarakat desa.

Pementasan ditutup dengan sandya gita “I Bulu Pangi”, garapan yang sarat akan pesan moral. Selain menampilkan harmonisasi vokal dan tabuhan gamelan yang padu, karya tersebut mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak melupakan akar budaya dan tetap menjunjung nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Baca juga:  Polsek Sukawati Bagikan Masker di Pura Kepuh Kemenuh

Menurutnya, keseluruhan konsep garapan lahir dari keprihatinan terhadap mulai lunturnya pemahaman generasi muda terhadap budaya, tradisi, dan kearifan lokal di desa. Karena itu, seni pertunjukan dipilih sebagai media untuk mengingatkan kembali pentingnya menjaga identitas budaya di tengah derasnya pengaruh modernisasi.

“Di era sekarang, generasi muda mulai lupa. Maka muncul ide untuk mengolah karya ini agar kita kembali eling terhadap apa yang kita miliki dan warisi,” ujarnya. (Yudha/balipost)

 

BAGIKAN