
JAKARTA, BALIPOST.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (13/8), bergerak melemah seiring respons jangka pendek pelaku pasar mencermati hasil tinjauan MSCI atas saham-saham Indonesia periode Agustus 2026.
Dibuka menguat, IHSG pukul 09.15 WIB mulai bergerak melemah 33,46 poin atau 0,52 persen ke posisi 6.340,39. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 4,00 poin atau 0,63 persen ke posisi 629,84.
“Selama IHSG mampu bertahan di atas 6.308-6.269, peluang breakout di atas 6.377 tetap terbuka dengan target penguatan menuju 6.462 hingga 6.550, sementara resistance mayor berikutnya berada di sekitar 6.635/6.723. Sebaliknya, apabila kembali gagal menembus 6.377 dan turun di bawah 6.308, IHSG berpotensi menguji 6.269 lalu 6.247 sebagai area support utama,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dikutip dari Kantor Berita Antara.
Dari dalam negeri, MSCI dalam tinjauan indeks Agustus 2026, melakukan perubahan pada komposisi saham Indonesia, yaitu terdapat dua saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes, yang mana salah satunya diturunkan kategorinya ke MSCI Global Small Cap Index.
Sementara satu saham dipindahkan ke kategori MSCI Global Small Cap Index, di sisi lain MSCI mengeluarkan sembilan saham Indonesia dari indeks ini.
Dengan demikian, masih terdapat sembilan saham Indonesia yang menghuni MSCI Global Standard Index, serta sekitar 33 saham Indonesia yang bertahan di dalam daftar MSCI Global Small Cap Indexes.
Namun demikian, MSCI masih belum mengubah komposisi negara Emerging Markets dalam MSCI Frontier Emerging Markets Index, setelah menyelesaikan Annual Country Review 2026.
“Hasil review ini menunjukkan tidak terdapat perubahan terhadap daftar negara Emerging Markets yang saat ini masuk dalam indeks, sehingga belum ada perubahan komposisi yang berasal dari review tahunan tersebut,” ujar Liza.
Sementara itu, utang pemerintah Indonesia tercatat mencapai Rp10.293,69 triliun hingga Juni 2026 atau 41,26 persen terhadap PDB, atau tumbuh Rp1.819,79 triliun atau 21,5 persen sejak akhir September 2024.
Pertumbuhan utang yang mencapai 67,5 persen sejak 2020 telah melampaui pertumbuhan PDB nominal sebesar 64,9 persen, sementara rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan fiskal meningkat menjadi 19 persen dari sebelumnya 14,6 persen pada 2022.
“Meski masih di bawah batas 60 persen PDB, tren ini perlu diwaspadai untuk menjaga keberlanjutan fiskal,” ujar Liza.
Dari mancanegara, sentimen pasar cenderung positif setelah data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat (AS) periode Juli 2026 sesuai ekspektasi, dengan headline CPI naik 0,1 persen month to month (mtm) dan melambat menjadi 3,4 persen year on year (yoy), sementara core CPI naik 0,2 persen (mtm) dan turun menjadi 2,5 persen (yoy).
Data itu mengurangi tekanan bagi bank sentral AS The Fed untuk menaikkan suku bunga, tercermin dari kenaikan probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada September 1016 menjadi 62 persen dari sebelumnya 54 persen.
“Namun, pasar tetap mewaspadai potensi kenaikan inflasi pada Agustus akibat lonjakan harga minyak,” ujar Liza.
Selanjutnya, pelaku pasar menantikan data Producer Price Index (PPI) AS dan Personal Consumption Expenditures (PCE) AS sebagai indikator inflasi yang lebih diutamakan The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik masih menjadi perhatian setelah AS dan Iran kembali berselisih mengenai kendali atas Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump menyatakan AS memiliki kendali penuh atas jalur tersebut, sementara Iran menegaskan Selat Hormuz belum akan dibuka sebelum AS menghentikan permusuhan dan memenuhi sejumlah tuntutan.
“Serangan terhadap kapal komersial di kawasan Bab el-Mandeb juga meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan rantai pasokan energi,” ujar Liza.
Bursa saham Eropa kompak melemah pada Kamis (12/08), diantaranya Euro Stoxx 50 melemah 0,16 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,10 persen, indeks DAX Jerman melemah 0,20 persen, serta indeks CAC 40 Prancis menurun 0,50 persen.
Sementara bursa Wall Street AS variatif pada Kamis (12/08), diantaranya indeks S&P 500 menguat 0,30 persen ke level 7.749,19, indeks Nasdaq Composite menguat 0,50 persen ke 26.588,49, serta Dow Jones Industrial Average melemah 0,30 persen ke 53.770,16.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei menguat 1,62 persen ke 68.614,00, indeks Shanghai menguat 0,45 persen ke 3.964,4, indeks Kospi menguat 4,08 persen ke 6.847,41, indeks Hang Seng melemah 0,27 persen ke 25.370,81, dan indeks Straits Times melemah 0m55 persen ke 5,689,26. (kmb/balipost)










