
SINGARAJA, BALIPOST.com – Suasana Buleleng tempo dulu akan dihidupkan kembali melalui Buleleng Festival (Bulfest) 2026. Pemerintah Kabupaten Buleleng memilih konsep vintage dengan menghadirkan dekorasi bernuansa jadul, musik bertempo lembut, hingga kuliner yang lekat dengan kehidupan masyarakat masa lalu.
Konsep tersebut akan mewarnai pelaksanaan Bulfest yang berlangsung 18-23 Agustus 2026 di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dan Titik Nol Singaraja. Persiapan di lokasi mulai dilakukan, ditandai dengan pemasangan tenda serta sejumlah perlengkapan festival.
Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra saat dikonfirmasi, Selasa (11/8) mengatakan konsep vintage sengaja dipilih untuk memberikan karakter berbeda pada Bulfest tahun ini. Nuansa tersebut akan diterapkan mulai dari ornamen hingga pilihan warna di kawasan festival. “Konsepnya vintage, kembali ke zaman dulu. Makanya semua ornamen lebih ke arah zaman dulu, termasuk warna-warna vintage,” ujar Sutjidra.
Tidak seperti festival yang identik dengan panggung musik berenergi tinggi, Bulfest kali ini akan mengurangi pertunjukan dengan suara keras. Musik yang disajikan akan dibuat lebih lembut sehingga suasana festival diharapkan lebih tenang. “Tidak akan ada lagi musik-musik keras dan sebagainya. Soft semua nanti. Buleleng yang tenang ini,” katanya.
Kuliner tradisional menjadi bagian lain yang mendapat perhatian. Sejumlah makanan yang pernah lekat dengan keseharian masyarakat Buleleng akan kembali ditampilkan. Di antaranya laklak kelor, jukut undis dan jajanan tradisional lainnya.
Pemilihan kuliner tersebut tidak semata untuk melengkapi sajian festival. Pemkab Buleleng ingin makanan tradisional tersebut kembali dikenal, terutama oleh kalangan generasi muda. Konsep lama dalam aktivitas perdagangan juga akan ditampilkan melalui dagang patokan.
Model pedagang kecil tersebut menggambarkan aktivitas jual beli yang dikelola sendiri oleh pedagang tanpa tenaga pembantu. Pedagang akan mendapat ruang untuk berjualan pada sore hingga malam hari dengan menu sederhana, seperti kopi, teh, pisang goreng dan laklak.
Sutjidra menuturkan, konsep Bulfest tahun ini berkaitan dengan upaya menata kembali kawasan Titik Nol Singaraja sebagai ruang yang memiliki nilai sejarah. Kawasan tersebut dinilai dapat menjadi titik untuk mengenalkan perjalanan Buleleng kepada masyarakat.
Buleleng, kata dia, memiliki perjalanan panjang dalam sejarah Bali, termasuk sebagai kawasan perdagangan, pendidikan dan kebudayaan. Wilayah ini juga pernah menjadi bagian penting dari kawasan Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT.
“Pengunjung tidak hanya diajak menyaksikan pertunjukan, tetapi juga melihat kembali unsur kehidupan masyarakat Buleleng pada masa lalu yang coba dihadirkan melalui festival,” tandasnya. (Nyoman Yudha/balipost)










