Sira Village Grand Outlet Bali resmi dibuka di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali, Jumat (31/7). (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, Bali mencatat lahirnya tiga pusat perbelanjaan modern berskala besar. Dimulai dengan hadirnya Living World Denpasar pada 2023, disusul ICON Bali Sanur pada 2024, hingga yang terbaru Sira Village Grand Outlet Bali di kawasan KEK Kura-Kura Bali, Serangan, yang mulai beroperasi pada akhir Juli 2026.

Saat ini, sedikitnya terdapat sekitar 15 pusat perbelanjaan modern yang tersebar di wilayah Denpasar dan Badung. Selain tiga mal terbaru tersebut, Bali juga telah memiliki sejumlah pusat perbelanjaan besar seperti Beachwalk Shopping Center, Discovery Mall Bali, Trans Studio Mall Bali, Mal Bali Galeria, Level 21 Mall, hingga Lippo Mall Kuta.

Kehadiran pusat-pusat perbelanjaan tersebut menjadi indikator meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Bali. Investasi di sektor ritel modern tidak hanya memperluas pilihan destinasi belanja dan hiburan, tetapi juga diyakini mampu mendorong penciptaan lapangan kerja, meningkatkan investasi, serta menggerakkan roda perekonomian daerah.

Namun, di balik optimisme tersebut, muncul sejumlah tantangan baru. Bertambahnya pusat aktivitas komersial dinilai berpotensi meningkatkan kepadatan lalu lintas di sejumlah kawasan.

Kondisi itu mulai terlihat terutama saat akhir pekan, musim liburan, maupun ketika berlangsung pembukaan pusat perbelanjaan baru yang mampu menarik ribuan pengunjung.

Selain persoalan infrastruktur, keberlanjutan bisnis pusat perbelanjaan juga menjadi perhatian. Pesatnya perkembangan perdagangan digital telah mengubah pola konsumsi masyarakat sehingga mal tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat berbelanja.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Warmadewa (Unwar), Dr. Putu Ayu Sita Laksmi, B.Bus., M.Sc., menilai kehadiran tiga pusat perbelanjaan besar dalam tiga tahun terakhir merupakan sinyal positif bagi perekonomian Bali.

Menurutnya, masuknya investasi menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Pulau Dewata. “Pada dasarnya ini merupakan sinyal positif. Investor melihat Bali masih memiliki prospek ekonomi yang baik sehingga berani menanamkan modal dalam investasi berskala besar,” ujarnya, Jumat (7/8).

Baca juga:  Pembangunan IKN Menarik Minat Investor Mancanegara

Ia menjelaskan, manfaat investasi tersebut tidak hanya dirasakan sektor ritel, tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap berbagai sektor lain. Mulai dari sektor konstruksi, transportasi, logistik, keamanan, kebersihan, kuliner hingga pelaku UMKM yang menjadi tenant di dalam pusat perbelanjaan.

“Pembangunan mal menciptakan lapangan kerja sejak tahap konstruksi hingga operasional. Selain itu juga meningkatkan penerimaan daerah melalui pajak dan mendorong perputaran ekonomi lokal,” katanya.

Menurutnya, keberadaan mal kini juga menjadi pelengkap destinasi wisata Bali. Wisatawan tidak lagi hanya mencari wisata alam maupun budaya, tetapi juga pengalaman berbelanja, kuliner, hiburan, hingga aktivitas keluarga dalam satu kawasan.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perubahan perilaku konsumen akibat berkembangnya e-commerce membuat pusat perbelanjaan harus melakukan transformasi.

“Masyarakat kini banyak memenuhi kebutuhan sehari-hari melalui belanja online karena lebih praktis dan sering kali lebih murah. Karena itu mal masa depan harus menjadi experience center, bukan sekadar tempat transaksi jual beli,” ujarnya.

Menurutnya, pengunjung harus memperoleh pengalaman yang tidak bisa digantikan platform digital, seperti menikmati kuliner, menghadiri konser, pameran, berkumpul bersama keluarga, mengikuti kegiatan komunitas maupun menikmati atraksi budaya lokal.

Dalam konteks Bali, peluang tersebut dinilai masih terbuka lebar karena pasar yang dimiliki cukup unik. “Bali memiliki pasar ganda, yakni masyarakat lokal dan jutaan wisatawan domestik maupun mancanegara yang menjadikan belanja sebagai bagian dari pengalaman berwisata,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan persaingan antar-mal akan semakin ketat. Setiap pusat perbelanjaan harus memiliki diferensiasi yang jelas, baik sebagai pusat premium lifestyle, outlet internasional, family entertainment, wellness maupun pusat promosi produk lokal Bali. “Kalau semua menawarkan konsep yang sama, risiko kanibalisasi pasar akan semakin besar,” ujarnya.

Baca juga:  Tingkatkan Investor

Menurutnya, keberlanjutan bisnis mal di Bali ke depan ditentukan oleh tiga faktor utama, yakni kemampuan menghadirkan pengalaman unik, integrasi dengan sektor pariwisata, serta kolaborasi dengan UMKM dan ekonomi kreatif lokal.

“Mal yang hanya mengandalkan retail konvensional akan menghadapi tantangan lebih besar. Sebaliknya, mal yang menjadi destinasi gaya hidup, hiburan, dan pengalaman akan memiliki peluang bertahan dalam jangka panjang,” tegasnya.

Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana (Unud), Prof. Dr. Drs. I Nengah Punia, M.Si.

Menurutnya, Bali memang memiliki daya tarik besar bagi investor karena jumlah penduduk dan wisatawan yang terus meningkat. Namun kondisi tersebut tidak otomatis menjamin seluruh investasi pusat perbelanjaan akan berhasil.

“Bali memang menarik bagi investor karena jumlah wisatawan dan penduduk terus bertambah. Tetapi itu tidak otomatis membuat bisnis mal akan selalu berhasil,” ujarnya, Jumat (7/8).

Ia menilai perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berbelanja. “Dulu orang harus datang ke mal untuk berbelanja. Sekarang cukup lewat ponsel, barang sudah diantar ke rumah. Itu yang membuat banyak mal kehilangan pengunjung,” katanya.

Menurutnya, setiap pembukaan pusat perbelanjaan baru memang hampir selalu menarik perhatian masyarakat. Namun antusiasme tersebut umumnya hanya berlangsung sementara.

“Karakter masyarakat memang penasaran dengan sesuatu yang baru. Saat pembukaan pasti ramai, apalagi jika ada promo besar. Setelah rasa penasaran hilang, jumlah pengunjung biasanya mulai menurun,” jelasnya.

Ia mengatakan fungsi mal kini juga mengalami pergeseran. Jika dahulu menjadi pusat aktivitas belanja, kini lebih banyak dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi, kuliner, hingga ruang bersosialisasi.

“Yang dicari sekarang bukan hanya belanja, tetapi pengalaman. Orang datang untuk jalan-jalan, makan, atau sekadar melihat-lihat,” ujarnya.

Baca juga:  Dua Investor Minati Pabrik Kopi Mengani, Pemkab Targetkan Kontrak Februari

Dengan jumlah penduduk Bali sekitar empat juta jiwa ditambah jutaan wisatawan setiap tahun, peluang bisnis pusat perbelanjaan dinilai masih terbuka. Namun persaingan dipastikan akan semakin ketat.

“Kalau tidak mampu menawarkan sesuatu yang berbeda, bukan tidak mungkin nasibnya akan sama seperti beberapa mal yang akhirnya sepi bahkan tutup,” katanya.

Ia juga menilai pembangunan mal akan memiliki nilai strategis apabila mampu menjadi pintu masuk investasi sektor lain yang memberikan dampak ekonomi lebih luas.

“Berbeda apabila investor menjadikan pembangunan mal sebagai pemicu lahirnya investasi di sektor lain. Jadi mal menjadi daya tarik awal bagi pengembangan kawasan,” ujarnya.

Dari sisi sosial, Nengah Punia menilai pusat perbelanjaan kini juga telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

“Belanja di mal tertentu sering dianggap menunjukkan status sosial. Padahal barang yang dijual hampir sama, menu kuliner juga hampir serupa. Yang membedakan lebih pada tempat dan suasananya,” katanya.

Terkait polemik pembangunan Sira Village Grand Outlet Bali di kawasan KEK Kura-Kura Bali yang hingga kini masih menjadi perhatian publik, ia menilai pemerintah perlu segera memberikan kepastian hukum terhadap berbagai persoalan yang masih diperdebatkan.

Menurutnya, kepastian hukum penting tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi investor agar investasi yang telah berjalan tidak terus dibayangi konflik.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah kepastian hukum. Pemerintah harus mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan investasi, masyarakat, dan perlindungan lingkungan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan publik terhadap penegakan hukum. Menurutnya, muncul persepsi di tengah masyarakat bahwa aktivitas yang semula dianggap tidak sesuai aturan pada akhirnya dapat menjadi legal merupakan fenomena yang perlu mendapat perhatian serius. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN