Viral genangan limbah di Pantai Berawa ditangani cepat oleh Finns Beach Club. Drainase kembali lancar, pemerintah dorong penataan permanen. (BP/istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Viralnya genangan air diduga limbah di Pantai Berawa, Desa Tibubeneng, Kuta Utara langsung memicu respons cepat. Manajemen Beach Club bergerak sejak Senin (3/8) pagi, mengerahkan alat berat untuk menutup cekungan dan memulihkan aliran drainase yang sempat terhenti sebagai itikad baik pasca viralnya video saluran pembuangan yang diduga limbah usaha tersebut.

Sejak pukul 08.00 WITA, alat berat dikerahkan untuk meratakan pasir sekaligus menutup cekungan yang menjadi titik genangan air. Upaya ini bertujuan agar aliran dari saluran drainase kembali lancar menuju laut.

Samsul Arifin, 42, karyawan proyek Finns Beach Club, menjelaskan pengerjaan dilakukan untuk mengatasi dampak kondisi alam yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Ombak besar disertai hujan deras menyebabkan abrasi pada bibir pantai hingga membentuk cekungan yang menghambat aliran air.

Baca juga:  Disepakati, Akses Jalan ke Pantai Serangan Dibuka Kembali

“Alat berat dikerahkan sejak sekitar pukul 08.00 WITA. Perataan dilakukan supaya tidak ada lagi cekungan yang menampung air dari drainase,” ujar Arifin saat ditemui di lokasi.

Ia menegaskan area yang diperbaiki merupakan fasilitas umum. Namun, Finns turun tangan sebagai bentuk bantuan penanganan darurat. Selain meratakan pasir, tim juga membersihkan saluran drainase agar aliran air kembali normal.

“Sudah sekitar seminggu tidak bisa dilalui air. Setelah ombak besar dan hujan, pasir tergerus sehingga terbentuk cekungan yang dalam. Tadi kami langsung diperintahkan oleh owner untuk tutup genangan,” jelasnya.

Baca juga:  Bupati Giri Prasta Sampaikan Jawaban Pemerintah Atas PU Fraksi

Sementara itu, Perbekel Desa Tibubeneng, I Made Kamajaya, menegaskan genangan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh satu usaha. Ia menyebut faktor utama berasal dari kondisi alam yang menyebabkan aliran drainase tertahan.

“Kondisi alam menyebabkan air menggenang karena tidak bisa langsung mengalir ke laut. Ditambah sampah yang terbawa dan dibuang pengunjung, akhirnya muncul bau yang menyengat,” katanya.

Kamajaya mengungkapkan, pihak desa telah berkoordinasi dengan manajemen Finns untuk melakukan langkah cepat dengan mengerahkan alat berat guna membuka jalur air ke laut dan menutup cekungan. Ia menegaskan keterlibatan beach club merupakan bentuk tanggung jawab sosial (CSR), bukan kewajiban penuh karena area tersebut merupakan ruang publik.

Baca juga:  Dua Mobil Penyok Tertimpa Dahan Beringin

“Langkah ini sifatnya darurat agar genangan segera hilang. Sekarang air sudah bisa kembali mengalir ke laut dan cekungan yang menyebabkan genangan sudah ditutup. Kalau kewenangan infrastrukturnya tetap pemerintah,” imbuhnya.

Ke depan, pemerintah desa mendorong Pemerintah Kabupaten Badung melalui instansi teknis untuk melakukan penataan permanen sistem drainase di kawasan Pantai Berawa. Desain penanganan disebut sudah disiapkan oleh Dinas Pekerjaan Umum. Selain itu, pengawasan terhadap sistem pengolahan air limbah (IPAL) seluruh pelaku usaha juga perlu diperketat guna mencegah kejadian serupa.

“Kami ingin persoalan ini diselesaikan secara menyeluruh. Infrastruktur drainasenya ditata, pengawasan IPAL diperketat, sehingga tidak lagi muncul persoalan yang merugikan lingkungan maupun citra pariwisata Berawa,” pungkasnya.(Parwata/balipost)

BAGIKAN