
SURABAYA, BALIPOST.com – Steering committee (SC) Piala Presiden 2026 menetapkan Bali sebagai tuan rumah laga semifinal dan final Piala Presiden 2026. Ini, sesuai kesepakatan dengan Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir dan pihak terkait.
“Saya tetapkan semifinal dan final, sesuai persetujuan Ketua Umum PSSI Pak Erick, tempatnya adalah di Bali,” kata Ketua SC Piala Presiden 2026 Maruarar Sirait di Balai Kota Surabaya, Jawa Timur, Minggu (2/9), dilansir dari Kantor Berita Antara.
Maruarar melanjutkan, meski sempat menginginkan semifinal dan final digelar di Surabaya, Bali diputuskan menjadi tuan rumah pada edisi tahun ini seusai berdiskusi dengan Ketum PSSI dan Pemerintah Kota Surabaya.
Selain menetapkan lokasi pertandingan, Maruarar juga mengumumkan hadiah bagi juara Piala Presiden 2026 naik dari Rp6 miliar menjadi Rp8 miliar sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi peserta turnamen.
“Hadiah juara Piala Presiden 2026 naik dari Rp6 miliar menjadi Rp8 miliar. Jadi, semangat untuk semua klub,” ujar dia.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Surabaya sebagai kota penyelenggara fase awal Piala Presiden 2026.
Eri berharap Surabaya dapat memperoleh kesempatan menjadi tuan rumah semifinal dan final pada penyelenggaraan Piala Presiden berikutnya.
“Insya Allah, ketika ada Piala Presiden kembali, saya berharap semifinal dan finalnya ada di Kota Surabaya,” ujar dia.
Selain itu, Eri menilai penyelenggaraan Piala Presiden tidak hanya menghadirkan pertandingan sepak bola, tetapi juga memberikan teladan tentang pentingnya menghormati tokoh-tokoh yang berjasa bagi sepak bola nasional serta tidak melupakan sejarah.
Dia juga menyebut tingginya antusiasme masyarakat terhadap turnamen tersebut tercermin dari capaian rating siaran televisi yang mencapai 23 persen, sehingga diyakini Piala Presiden akan terus mendapat tempat di hati masyarakat.
Maruarar juga mengatakan pihaknya mengupayakan kehadiran penonton pada pertandingan semifinal dan final Piala Presiden 2026 yang akan digelar di Bali pada 4 dan 6 Agustus.
“Kami usahakan, kami perjuangkan, dan doakan,” kata Maruarar.
Dia melanjutkan, kehadiran penonton berada di luar kewenangan SC karena berkaitan dengan otoritas di daerah penyelenggara.
Meski demikian, Maruar menekankan pihaknya terus berjuang agar suporter dapat hadir di stadion dan meramaikan suasana pertandingan.
Terlepas dari itu, dia menyebut pula Piala Presiden selama delapan edisi terus mengedepankan transparansi dan tata kelola yang baik.
Termasuk, Maruar melanjutkan, melalui audit independen, pengelolaan sampah yang baik, serta pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan menyediakan tempat berjualan secara gratis.
Selain itu, panitia juga menaikkan nilai hadiah turnamen untuk meningkatkan motivasi para peserta sekaligus terus membuka ruang bagi masukan dan kritik guna menyempurnakan penyelenggaraan turnamen.
Tidak cuma itu, Maruarar menilai aspek fair play menjadi salah satu fokus utama penyelenggara, terutama melalui kepemimpinan wasit yang adil, memahami peraturan, serta berani menegakkan aturan di lapangan.
Dia juga mengatakan Piala Presiden tetap memberikan perhatian kepada mantan pelatih dan mantan pemain tim nasional sebagai bagian dari upaya menghadirkan dampak positif bagi sepak bola Indonesia.
Menurut dia, seluruh program yang telah berjalan harus terus dilanjutkan sambil memperbaiki berbagai kekurangan yang masih ada dalam penyelenggaraan turnamen.
“Kami semua harus bisa menerima masukan, termasuk kritik karena semua itu tidak ada yang sempurna dan kritik itu jangan hanya didengar tapi diperbaiki,” tutur dia. (kmb/balipost)










