Karyawan menghitung uang pecahan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (27/7/2026). (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (30/7), bergerak melemah 38 poin atau 0,12 persen menjadi Rp18.111 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.073 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi harga minyak yang masih bertahan pada level tinggi.

“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi oleh global berupa menguatnya indeks dolar dan harga minyak yang masih bertahan pada level yang tinggi,” katanya di Jakarta, Kamis (30/7).

Baca juga:  Pansus Angket Telusuri Rumah Sekap KPK

Walaupun tren harga minyak menurun, lanjut dia, tapi masih jauh di atas asumsi harga di APBN, sehingga dikhawatirkan akan berakibat pada defisit fiskal dan perdagangan.

Sentimen lainnya berasal dari hasil pertemuan (Federal Open Market Committee) yang mengarah pada sikap Federal Reserve (The Fed) yang hawkish berdampak pada kenaikan yield obligasi pemerintah, seperti tenor 10 tahun naik 0,5 basis points (bps), lalu tenor 2, 3, dan 6 tahun masing-masing naik 1,2, 1,4, dan 2,6 bps.

“Tenor 6 tahun naik paling besar, 14 bps, walaupun tidak terjadi capital outflow,” ungkapnya dikutip dari Kantor Berita Antara.

Baca juga:  Piala Dunia Panjat Tebing Bali 2025 Resmi Dimulai, Indonesia Diwakili 31 Atlet

Senada, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai rupiah bergerak dalam kisaran terbatas seiring pengumuman kebijakan moneter FOMC AS.

“Sesuai ekspektasi pasar, The Fed mempertahankan Fed Funds Rate (FFR) pada kisaran 3,50-3,75 persen dalam pertemuan Juli 2026, serta kembali menegaskan komitmennya untuk memulihkan stabilitas harga,” ungkap dia.

Dalam konferensi pers pascapertemuan, lanjut dia, Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan bank sentral AS terus mencermati tren kenaikan imbal hasil US Treasury (UST), yang mengindikasikan bahwa investor obligasi telah melakukan sebagian dari upaya pengetatan kondisi keuangan yang diharapkan oleh bank sentral.

Baca juga:  Bali Miliki Ribuan Kasus COVID-19 Aktif, Mayoritas Jalani Isolasi

Pernyataan tersebut menurunkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, sekaligus mendorong kenaikan imbal hasil UST pada tenor jangka panjang.

Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini bergerak menguat di level Rp18.078 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.087 per dolar AS. (kmb/balipost)

BAGIKAN