
SINGASANA, BALIPOST.com – Bendungan Telaga Tunjung di Desa Timpag, Kecamatan Kerambitan, akan dilakukan normalisasi. Langkah ini dilakukan menyusul tingginya endapan sedimen yang diperkirakan mencapai sekitar 70 persen dari kapasitas tampungan bendungan.
Kendati demikian, air yang dilepas tetap dialirkan ke saluran irigasi melalui Tukad Yeh Ho sehingga tidak mengganggu kebutuhan air petani.
Petugas Operasi dan Pemeliharaan Bendungan Telaga Tunjung, I Wayan Eka Sudarsana, dikonfirmasi Rabu (29/7), mengatakan penyusutan muka air memang bagian dari tahapan normalisasi. Namun, bendungan tidak dikeringkan sepenuhnya karena metode pengerukan menggunakan alat amfibi yang tetap membutuhkan genangan air.
Normalisasi dikatakannya untuk mengembalikan fungsi Bendungan Telaga Tunjung sebagai sumber air irigasi. Saat ini Balai Wilayah Sungai (BWS) telah menyiapkan alat berat amfibi di lokasi dan mulai melakukan penyusutan muka air hingga elevasi sekitar 196 meter di atas permukaan laut (mdpl). Pengerjaan pengerukan direncanakan dimulai awal Agustus mendatang.
“Sekarang baru sedikit sedimen yang terlihat. Air memang sengaja diturunkan untuk persiapan pengerukan. Tetapi tidak boleh terlalu kering karena alat amfibi justru tidak bisa bekerja apabila tidak ada genangan air,” jelasnya.
Menurut Eka, endapan lumpur diperkirakan telah memenuhi sekitar 70 persen tampungan sehingga kapasitas efektif bendungan terus menurun. Penyusutan muka air yang dilakukan saat ini baru sekitar satu meter atau sekitar 10 persen dari kondisi tampungan saat ini.
Namun apabila dibandingkan dengan elevasi normal bendungan yang berada di 199 mdpl, penyusutannya telah mencapai sekitar 30 persen akibat besarnya volume sedimen.
Untuk memastikan distribusi air irigasi tetap berjalan, BWS telah berkoordinasi dengan para pekaseh yang memanfaatkan air Bendungan Telaga Tunjung, yakni DI Gadungan, DI Meliling, dan DI Sungsang. Saat ini DI Gadungan belum membutuhkan pasokan air karena masih memasuki masa tanam palawija.
Sementara debit air lebih banyak diarahkan ke DI Meliling. Adapun air yang dilepas menuju DI Sungsang tetap dialirkan melalui Tukad Yeh Ho sehingga tetap dapat dimanfaatkan petani.
“Kami sudah bersurat kepada para pekaseh. Air yang dikeluarkan dari bendungan tetap bermuara ke Tukad Yeh Ho sehingga masih dimanfaatkan petani. Pengaturan debit disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah irigasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, volume sedimen yang akan dikeruk diperkirakan mencapai hampir 50 ribu meter kubik. Pengerjaan dilakukan secara bertahap melalui sistem swakelola oleh BWS.Targetnya, pekerjaan berlangsung hingga akhir tahun 2026.
Melalui normalisasi ini, kapasitas tampung Bendungan Telaga Tunjung diharapkan kembali optimal sehingga mampu menjamin keberlanjutan pasokan air irigasi bagi lahan pertanian di wilayah Kerambitan dan sekitarnya. (Puspawati/balipost)










