Pemasangan pagar besi di Jembatan Bangkung Bangkung dinilai efektif menekan percobaan ulah pati. (BP/istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Upaya penyelamatan jiwa di Jembatan Bangkung, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, mulai menunjukkan hasil. Pemasangan pagar besi dan pengaman tambahan atau railing terbukti efektif menekan aksi percobaan ulah pati di salah satu ikon wisata tersebut.

Pemerintah Kecamatan Petang bersama unsur Forkopimcam kini memperketat pengawasan dengan patroli selama 24 jam penuh. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk respons cepat terhadap kasus-kasus percobaan bunuh diri yang sempat marak terjadi di lokasi tersebut.

Camat Petang, Anak Agung Ngurah Darma Putra menegaskan, pemasangan pagar besi bukan untuk mengurangi daya tarik wisata, melainkan sebagai langkah perlindungan masyarakat. “Jangan sampai ada persepsi yang salah. Pemasangan pagar pengaman ini murni untuk menyelamatkan masyarakat. Jembatan yang awalnya menjadi tempat rekreasi justru beberapa kali digunakan sebagai lokasi ulah pati,” ungkap Darma Putra pada Kamis (30/6).

Baca juga:  Dibenarkan, Mayat Tergantung di Jembatan Tukad Bangkung Anggota TNI

Ia mengungkapkan, sekitar tiga bulan lalu dirinya langsung mengusulkan pemasangan pengaman kepada Bupati Badung. Awalnya, opsi jaring penahan sempat dipertimbangkan, namun akhirnya diputuskan menggunakan pagar besi sebagai solusi utama.

Keberadaan pagar tersebut kini sangat membantu petugas dalam melakukan pengawasan. “Sebelum pagar dipasang, petugas patroli bahkan harus turun ke bawah jembatan untuk memastikan tidak ada orang yang berniat mengakhiri hidup,” ungkapnya.

Selain mencegah aksi ulah pati, pagar juga berfungsi mengantisipasi masyarakat yang membuat konten berbahaya di area jembatan. Koordinasi lintas instansi pun diperkuat, melibatkan pecalang, desa adat, kepolisian, Satpol PP, dan Trantib.

Meski demikian, setelah pemasangan pagar sempat terjadi satu kasus ketika seseorang memanjat melalui sisi samping yang belum dilengkapi kawat berduri. Kejadian itu langsung direspons dengan penambahan kawat berduri di sisi timur dan barat jembatan.

Baca juga:  Perempuan "Ulah Pati" di Jembatan Tukad Bangkung, Di Ponselnya Ada Tagihan Pinjol

“Saya sendiri turun saat evakuasi korban waktu itu. Dari situ muncul inisiatif memasang kawat berduri di sisi timur dan barat. Astungkara sampai sekarang kondisinya jauh lebih aman,” jelasnya.

Patroli gabungan kini dilakukan secara intensif setiap dua jam sekali. Petugas langsung melakukan pendekatan persuasif jika menemukan seseorang yang menunjukkan tanda-tanda depresi.

“Per bulan hampir empat sampai lima orang berhasil kita gagalkan. Indikatornya ketika ada orang duduk diam, menangis, atau menunjukkan tanda-tanda depresi, patroli langsung mendekat dan melakukan pendekatan persuasif,” terangnya.

Data rekap periode 18 Mei hingga 25 Juni 2026 mencatat sedikitnya lima percobaan ulah pati berhasil digagalkan. Seluruh korban selamat berkat respons cepat petugas dan laporan masyarakat. Kasus tersebut terjadi pada 21 Mei, 6 Juni, 9 Juni, 20 Juni, dan 25 Juni 2026.

Baca juga:  Ratusan Bacaleg di Badung Belum Penuhi Syarat

Sebagian besar dipicu persoalan pribadi, konflik keluarga, hingga tekanan psikologis. Peran masyarakat sekitar pun menjadi kunci penting dalam sistem pencegahan dini. “Dalam sejumlah kasus, laporan cepat dari warga, pemilik warung, hingga keluarga korban menjadi faktor penting yang memungkinkan aparat melakukan penyelamatan sebelum aksi nekat terjadi,” rincinya lagi.

Pemerintah kini terus memperkuat koordinasi dengan Polsek Petang, Koramil, Satpol PP, Trantib, pecalang, serta masyarakat sekitar. Pemilik warung di sekitar jembatan juga dilibatkan aktif untuk melaporkan aktivitas mencurigakan. “Yang paling penting bagi kami sekarang adalah bagaimana setiap nyawa bisa diselamatkan. Karena itu patroli dan pengawasan akan terus kami tingkatkan,” ucapnya. (Parwata/balipost)

BAGIKAN