
SINGASANA, BALIPOST.com – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya menekankan penguatan sinergi distribusi pasokan pangan di Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai salah satu upaya pengendalian inflasi.
“Bank Indonesia bersama dengan kepala daerah dari Bali, NTB dan NTT terus memperkuat kolaborasi. Kami memastikan produksi, distribusi ini aman dan terkendali,” kata Wamendagri Bima Arya di sela gerakan pengendalian inflasi dan pangan sejahtera (GPIPS) di Desa Wisata Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali, Senin (27/7).
Dilansir dari Kantor Berita Antara, ia mengatakan kerja sama antardaerah dalam pengendalian inflasi merupakan salah satu cara yang penting mencermati tiga provinsi itu memiliki potensi besar geliat ekonomi yang banyak bergerak di sektor pariwisata, pangan serta usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Mantan Wali Kota Bogor itu menambahkan meski ketiga provinsi bertetangga itu memiliki potensi besar, namun tantangan ketiganya sama yaitu terkait konektivitas yang berpengaruh ke biaya logistik dan terkait produksi.
“Produksi dan distribusi sama-sama menantang. Belum lagi kawasan ini bertumpu kepada pariwisata yang menimbulkan efek volatibilitas cukup tinggi juga,” ucapnya.
Melalui kerja sama antardaerah, provinsi yang surplus komoditas tertentu bisa menopang daerah lain dan begitu juga sebaliknya.
Selain kerja sama antardaerah, Wamendagri juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dengan memetakan fluktuasi harga dari hulu hingga proses produksi dan diintegrasikan dengan pemangku kebijakan terkait.
“Tapi tidak semua bisa memanfaatkan dan mengkoordinasikan data itu dengan stakeholders,” imbuhnya dalam sambutan.
Ketiga, lanjut dia, untuk jangka panjang yaitu pentingnya menjaga lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) agar tidak beralih fungsi.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Indra menambahkan ketiga provinsi memiliki potensi besar menggenjot kerja sama daerah.
Bali misalnya, lanjut dia, dapat bekerja sama dengan NTB yang merupakan sentra bawang merah dan bawang putih.
Selain itu, Bali juga merupakan salah satu produsen beras termasuk beras merah dan beras organik yang berasal dari kawasan Desa Jatiluwih, Kabupaten Tabanan.
“Kemudian dari kami mendistribusikan telur ke NTB dan NTT dan pangan lainnya. Memang kami bertiga itu saling membutuhkan,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu juga langsung dilakukan penyerapan, penyediaan dan pemasokan pangan di Bali, NTB dan NTT, penyaluran bantuan sarana prasarana pertanian serta pembiayaan pertanian di tiga provinsi itu.
Ikut hadir dalam GPIPS yaitu Gubernur NTT Melki Laka Lena, Asisten Gubernur BI Rudi Brando Hutabarat, Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura, serta Sekretaris Daerah NTB Abul Chair. (kmb/balipost)










