
MANGUPURA, BALIPOST.com – Maraknya aksi kriminalitas di kawasan pariwisata Badung mulai menyalakan alarm serius. Bahkan, insiden penembakan di tempat hiburan malam memperkuat kekhawatiran akan keamanan destinasi unggulan Bali tersebut. Pemerintah Kabupaten Badung pun menyiapkan langkah strategis agar situasi tidak semakin memburuk.
Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa menegaskan bahwa persoalan keamanan tidak bisa dianggap sepele. Ia menyebut, meningkatnya kriminalitas berpotensi menghambat upaya mewujudkan pariwisata berkualitas yang selama ini menjadi prioritas daerah.
Menurutnya, kriminalitas merupakan satu dari lima persoalan utama yang saat ini menjadi fokus pemerintah daerah. Selain keamanan dan ketertiban, tantangan lainnya adalah kemacetan, sampah, krisis air bersih terutama di Kuta Selatan, serta banjir.
“Kriminalitas atau masalah keamanan dan ketertiban dalam arti luas memang menjadi tantangan kami. Kalau ini dibiarkan terus, bisa menjadi bottleneck atau penghambat perkembangan pariwisata Bali pada umumnya dan Badung pada khususnya,” ujarnya.
Merespons kondisi tersebut, Pemkab Badung kini menyusun strategi pengamanan terpadu dengan melibatkan berbagai pihak. Mulai dari aparat kepolisian, Satpol PP, hingga desa adat akan diperkuat perannya dalam menjaga stabilitas keamanan di kawasan wisata.
Adi Arnawa menekankan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Ia menilai kolaborasi menjadi kunci utama dalam menciptakan rasa aman bagi wisatawan maupun masyarakat lokal. Untuk itu, Pemkab Badung berencana mengadopsi pola pengamanan yang telah terbukti efektif di kawasan Sanur, di mana desa adat berperan aktif dalam menjaga keamanan dan ketertiban.
“Kami akan membangun sinergi bersama aparat kepolisian, Satpol PP dan desa adat. Pemerintah tidak akan bisa berjalan sendiri tanpa dukungan seluruh komponen masyarakat, termasuk desa adat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Adi Arnawa mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan rancangan strategi yang saat ini masih dalam tahap kajian. Jika rampung, pola pengamanan tersebut akan diterapkan secara bertahap di sejumlah desa adat di kawasan pariwisata sebagai proyek percontohan.
Salah satu konsep utama yang akan dihidupkan kembali adalah pengamanan berbasis masyarakat atau pam swakarsa. Dalam skema ini, desa adat akan menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan lingkungan, sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam menciptakan ketertiban.
“Saya sudah punya rancangan, sedang kami kaji. Mudah-mudahan secepatnya bisa diterapkan. Kami akan coba polakan di beberapa desa adat kawasan pariwisata agar pengamanan berbasis masyarakat atau Pam Swakarsa benar-benar bisa terimplementasi,” katanya.
Langkah ini diharapkan mampu menekan angka kriminalitas sekaligus memperkuat citra Badung sebagai destinasi wisata yang aman, nyaman, dan berkualitas di mata dunia. (Parwata/balipost)










