Kepala Disdikpora Badung, I Gusti Made Dwipayana dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPRD Badung membeberkan kondisi sejumlah sekolah yang krisis peminat.(BP/par)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Sejumlah Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Badung sepi peminat. Kondisi ini terungkap saat pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Sejumlah SD dilaporkan kekurangan siswa, bahkan ada yang jumlah peserta didiknya sangat minim hingga mengkhawatirkan keberlangsungan proses belajar mengajar.

Kondisi paling mencolok terjadi di Kecamatan Petang. Tercatat sebanyak sembilan SD hanya menerima siswa baru kurang dari 10 orang pada tahun ajaran ini. Fenomena ini langsung menjadi perhatian serius Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Badung.

Kepala Disdikpora Badung, I Gusti Made Dwipayana mengungkapkan bahwa pemerintah sebenarnya telah memberikan tambahan waktu pendaftaran guna mengantisipasi kekurangan siswa. Namun, hingga proses pembelajaran dimulai, masih banyak sekolah yang belum memenuhi kuota. “SD banyak kosong, masih banyak yang kosong di SD,” ujar Dwipayana, Rabu (22/7).

Baca juga:  SD di Jungutbatu Kekurangan Guru dan Ruang Kelas

Ia menjelaskan, kekurangan siswa paling banyak terjadi di wilayah Petang. Meski tidak merinci nama sekolah, ia memastikan terdapat sembilan SD yang menerima siswa baru kurang dari 10 orang. Kondisi ini diperkirakan dipengaruhi oleh fluktuasi angka kelahiran setiap tahunnya. “Setelah masa daftar kembali selesai masih ada sembilan SD di Petang yang menerima siswa baru kurang dari 10 orang,” ungkapnya.

Tak hanya di tingkat SD, kekurangan siswa juga terjadi pada jenjang SMP. Namun, jumlahnya tidak separah di SD. Beberapa sekolah yang mengalami kekurangan siswa di antaranya SMPN 3 Kuta Selatan, SMPN 2 Petang, SMPN 3 Petang, dan SMPN 4 Petang.

Baca juga:  Belasan Siswa Terjaring Menggepeng di Ubud

“Rata-rata kurang satu kelas lah, masih ada sisa satu kelas. Masih, artinya secara operasional masih masih layak untuk operasional. Lain umpamanya kelasnya lima cuma berisi lima kan sudah sudah perlu dipertimbangkan, tapi ini masih masih cukup. Masih layak untuk tetap dipertahankan,” terangnya.

Terkait kemungkinan regrouping atau penggabungan siswa antar sekolah, Dwipayana menegaskan hal tersebut sulit dilakukan, khususnya di wilayah Petang. Jarak antar sekolah yang berjauhan menjadi kendala utama dalam penerapan kebijakan tersebut.

Sebagai langkah antisipasi, Disdikpora Badung akan memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak. Sinergi antara sekolah PAUD, SD, serta aparat desa setempat akan terus ditingkatkan guna memastikan seluruh anak usia sekolah dapat terdata dan memperoleh akses pendidikan.

Baca juga:  BPR Lestari #MakeanImpact di Yayasan Bukit Kehidupan Ungasan

“Kerjasama antara sekolah PAUD dengan SD serta aparat desa setempat terus dijaga. Sehingga semua anak yang ada di wilayah kerja sekolah terdaftar, dan mendapat pembelajaran. Intinya jangan sampai ada anak yang tidak sekolah. Walaupun kurang siswa pembelajaran tetap berjalan seperti biasa,” jelasnya.

Dwipayana berharap, ke depan tidak ada lagi anak yang tercecer dari sistem pendidikan, sekaligus memastikan seluruh sekolah tetap dapat beroperasi secara optimal meskipun menghadapi keterbatasan jumlah siswa.(Parwata/balipost)

BAGIKAN