Konservasi penyu di Pantai Yeh Gangga kewalahan saat puncak musim penyu bertelur. (BP/bit)

SINGASANA, BALIPOST.com – Puncak musim bertelur penyu yang berlangsung sejak Mei hingga Agustus membuat kawasan konservasi penyu Gangga Lestari di Pantai Yeh Gangga, Desa Sudimara, Kecamatan Tabanan kelebihan kapasitas. Ribuan tukik terpaksa dilepas lebih awal ke laut karena daya tampung konservasi yang terbatas.

Pantauan di lokasi, Selasa (21/7), petugas konservasi tampak sibuk memindahkan tukik yang baru menetas dari sarang ke kolam penampungan. Di sisi lain, ribuan tukik siap lepas memenuhi kolam buatan untuk siap dilepas, sementara ribuan telur lainnya masih menunggu menetas.

Bendesa Adat Yeh Gangga, I Ketut Dolia, mengatakan lonjakan jumlah telur setiap musim menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola konservasi. Kapasitas kawasan yang ada saat ini tidak lagi mampu menampung seluruh telur maupun tukik hasil penetasan. “Kapasitas kami hanya sekitar 15.000 telur dari 150 sarang, sedangkan kolam tukik hanya mampu menampung sekitar 2.000 ekor. Kalau sudah penuh, tukik harus segera dilepas,” ujarnya.

Baca juga:  Gagalkan Penyelundupan 21 Penyu Hijau di Pantai Pegametan Buleleng, Polisi Buru Dua Pelaku

Menurut Dolia, idealnya tukik dilepas setelah berusia sekitar dua pekan. Namun, karena keterbatasan ruang dan tingginya kebutuhan pakan, tukik yang sudah mampu mencari makan, bahkan sejak berusia tiga hari, langsung dilepas ke laut meski tanpa menunggu adanya kegiatan pelepasan bersama wisatawan.

Luas kawasan konservasi yang hanya sekitar 8 x 12 meter atau kurang dari dua are menjadi kendala utama saat musim bertelur mencapai puncaknya. Dalam kondisi normal saja, belasan sarang penyu dapat ditemukan di sepanjang pantai dengan rata-rata sekitar 100 butir telur pada setiap sarang.

Baca juga:  Peringati HUT RI, Seribu Tukik Dilepas di Pantai Pengasahan

Selain keterbatasan lahan, biaya operasional juga menjadi tantangan. Selama berada di penangkaran, tukik harus diberi pakan berupa ikan tuna dan cumi-cumi cincang sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Di tengah keterbatasan tersebut, konservasi penyu Yeh Gangga justru semakin diminati wisatawan. Banyak pengunjung datang untuk menyaksikan proses penetasan hingga mengikuti kegiatan pelepasan tukik sebagai bagian dari wisata edukasi.

Pengelola pun berencana menggelar pelepasan tukik massal pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus mendatang. Kegiatan ini diharapkan melibatkan masyarakat dan wisatawan sebagai bentuk edukasi sekaligus upaya meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian penyu.

Baca juga:  Dari Ditinggal Ortu hingga “Overstay” Hampir 2,5 Tahun hingga Pemuda Asal Madiun Diamankan

Untuk mengantisipasi kelebihan kapasitas, Desa Adat Yeh Gangga telah menyiapkan rencana perluasan area konservasi sekitar lima meter ke arah timur. Nantinya akan dibangun kolam yang lebih besar untuk merawat penyu dewasa yang tersangkut jaring nelayan atau mengalami gangguan akibat parasit sebelum dilepas kembali ke habitatnya.

Selain itu, kawasan konservasi juga akan dilengkapi ikon baru berupa patung penyu setinggi empat meter di area parkir. Patung yang dihiasi ornamen tukik dan ikan hias tersebut dibangun dengan anggaran sekitar Rp30 juta dan ditargetkan rampung sebelum akhir 2026 sebagai daya tarik tambahan wisata edukasi Pantai Yeh Gangga.(Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN