Pantai Camplung Dikembangkan Jadi Wisata Bahari Berbasis Konservasi Penyu. (BP/Ist)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Desa Adat Banyuasri, Kecamatan Buleleng, mulai menyiapkan pengembangan kawasan Pantai Camplung sebagai destinasi wisata bahari berbasis konservasi. Pelestarian penyu lekang menjadi salah satu perhatian utama agar pengembangan kawasan pesisir tersebut tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan habitat penyu.

Ketua Komunitas Kurma Segara Raksa, I Nyoman Sadwika, mengatakan Pantai Camplung merupakan salah satu kawasan pesisir di Banyuasri yang rutin menjadi lokasi penyu bertelur. Aktivitas peneluran terutama terjadi pada periode Mei hingga Agustus.

Menurut Sadwika, terdapat lebih dari 10 titik lokasi peneluran penyu di sepanjang pesisir Banyuasri. Namun, titik peneluran tersebut cenderung bergeser karena penyu menghindari kawasan yang ramai, terang, dan bising.

“Kalau ada keramaian atau lampu, mungkin penyunya akan bergeser. Tapi tetap masih sepanjang ini,” ujar Sadwika Senin (17/8).

Baca juga:  Jamnas VW ke-49, Peserta Lakukan Pelepasan Tukik di Penimbangan

Selain gangguan aktivitas manusia, telur penyu yang ditemukan di kawasan tersebut juga menghadapi ancaman predator, seperti anjing dan biawak. Untuk menyelamatkan telur hingga menetas, komunitas bersama masyarakat melakukan evakuasi dan memindahkannya ke tempat penetasan sederhana.

Sadwika mengatakan, kegiatan konservasi tersebut menjadi langkah awal sebelum kawasan Pantai Camplung dikembangkan secara lebih luas. Desa Adat Banyuasri kini tengah mengagendakan penyusunan grand design pengembangan wisata bahari di kawasan tersebut.

Pengembangan wisata nantinya tidak hanya mengandalkan konservasi tukik, tetapi juga akan dipadukan dengan sejumlah potensi lainnya. Di antaranya kuliner, olahraga air (water sport), hingga wisata spiritual.

“Grand desain kita wisata bahari dengan wisata selain tukik. Kita juga ada kuliner, water sport, dan spiritualnya,” katanya.

Sementara itu, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menyambut baik inisiatif masyarakat dan desa adat dalam menjaga kelestarian penyu di Pantai Camplung. Pelepasliaran 100 tukik tersebut menjadi kegiatan perdana yang dilakukan Komunitas Kurma Segara.

Baca juga:  Kriminalitas di Kawasan Wisata Meningkat, Bupati Badung Dorong Penguatan Pecalang

Pemkab Buleleng, kata Sutjidra, akan mendorong kolaborasi sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) untuk mendukung upaya konservasi tersebut. Dinas Lingkungan Hidup serta Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan dinilai dapat dilibatkan dalam menjaga keberlangsungan populasi penyu.

“Dinas Lingkungan Hidup serta Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan dapat dilibatkan dalam upaya konservasi ini. Sehingga betul-betul dapat menjaga pelestarian dan menjaga kepunahan penyu-penyu ini,” ujarnya.

Di sisi lain, Sutjidra menilai Pantai Camplung memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata bahari. Selain keberadaan penyu, kawasan tersebut memiliki terumbu karang serta lokasi memancing yang selama ini telah dibuat dan dimanfaatkan masyarakat.

Baca juga:  "Bedawang Nala" Muncul di Desa Bugbug

Meski demikian, pengembangan kawasan pesisir tersebut tetap harus memperhatikan kondisi lingkungan, khususnya habitat penyu. Pemkab Buleleng juga berencana melakukan penataan sejumlah pantai di kawasan utara Kota Singaraja sebagai bagian dari pengembangan kawasan pesisir.

Penataan tersebut termasuk keberadaan lapak-lapak masyarakat di kawasan pantai. Lapak tersebut sebelumnya dibuka pada masa pandemi Covid-19 setelah mendapat kesempatan dari desa adat.

Ke depan, keberadaan lapak berpotensi ditata bahkan dibongkar apabila kawasan pantai mulai dikembangkan dan ditata secara lebih menyeluruh. Penataan diharapkan dapat menciptakan kawasan pesisir yang lebih tertib sekaligus tetap menjaga fungsi lingkungan.

“Jadi kita akan menata pantai-pantai yang ada di utara Kota Singaraja dulu, karena panjang sekali kita punya pantai,” tandas Sutjidra. (Yudha/balipost)

 

BAGIKAN