Penyuluh perikanan dan satpolair polres Bangli melakukan monitoring bersama di perairan Danau Batur. (BP/istimewa)

BANGLI, BALIPOST.com – Fenomena alam, yakni naiknya belerang dari dasar danau kembali melanda Danau Batur, Kintamani, Senin (20/7). Berdasarkan informasi fenomena tahunan itu muncul di beberapa titik, salah satunya di wilayah Banjar Dukuh, Desa Abang Batudingding.

Kemunculan belerang ini kembali memicu kekhawatiran bagi para peternak ikan jaring apung (KJA) di danau tersebut. Sebab fenomena itu berpotensi menyebabkan kerugian akibat kematian ikan masal.

Kelian Banjar Dukuh, Nyoman Tilem yang juga merupakan seorang petani ikan setempat mengungkapkan letupan belerang di perairan danau wilayah Banjar Dukuh terpantau terjadi sejak siang hari. Fenomena ini ditandai dengan hembusan angin, perubahan warna air danau menjadi kebiruan, serta bau belerang yang menyengat.

Ia mengaku belum mengetahui tingkat keparahan di area KJA. Nyoman Tilem mengatakan saat ini petani ikan memilih menghentikan sementara aktifitas di KJA untuk mengurangi risiko kematian ikan. “Kalau ke ikan liar belum ada dampak karena baru sekitar sejam dua jam berlangsung,” ungkapnya saat dihubungi siang kemarin.

Baca juga:  Bali Masuk Lima Besar Lakalantas Tertinggi di Indonesia

Fenomena naiknya belerang di Danau Batur diakuinya merupakan siklus tahunan yang biasa terjadi pada bulan Juli hingga Agustus. Nyoman Tilem mengaku saat ini dirinya tidak bisa berbuat banyak dan memilih pasrah menghadapi fenomena alam ini.

Sementara itu, Kabid Perikanan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, Wayan Agus Wirawan dikonfirmasi mengatakan selain di wilayah Dukuh, fenomena alam yang disebut upwelling tersebut juga dilaporkan terjadi di wilayah Kedisan dan Abangsongan sejak dini hari sekitar pukul 3.30 wita. Pihaknya belum bisa mengategorikan tingkat keparahannya.

Baca juga:  Asprov PSSI Bisa Pasok Pemain ke Liga 1

Dikatakan bahwa belum ada laporan kematian massal pada ikan budidaya di KJA, baru sebatas ikan-ikan liar yang mulai menepi ke pinggiran danau. “Kematian ikan biasanya baru akan terlihat jelas dalam 2 hingga 3 hari ke depan, tergantung pada lokasi dan luas sebaran belerang,” jelasnya.

Dinas PKP telah menurunkan petugasnya untuk memantau kondisi di lapangan. Sebagai langkah mitigasi dini jika nantinya terjadi kematian ikan massal, Dinas PKP Bangli pun telah berkoordinasi dengan salah satu petani di wilayah Pengotan, yang biasa mengolah bangkai ikan untuk dijadikan pupuk organik. Langkah ini diambil agar bangkai ikan tidak mencemari lingkungan danau.

Baca juga:  Jika Korban COVID-19 Ditolak, Ini Dilakukan Kodim

Agus Wirawan menyampaikan bahwa para petani ikan di Danau Batur umumnya sudah memahami siklus tahunan ini, yang kerap terjadi pada rentang bulan Juni hingga September, serta terkadang di bulan Februari. Di beberapa lokasi, petani telah melakukan panen lebih awal.

“Dari kami sebelumnya telah melakukan langkah antisipasi, antara lain melalui surat edaran dan sosialisasi langsung kepada masyarakat melalui penyuluh. Petani pembudidaya sudah memahami fenomena ini,” ujarnya.

Saat ini pihaknya kembali mengimbau pembudidaya untuk sementara waktu mengurangi aktivitas di area keramba guna menghindari risiko kematian ikan. “Kalau nantinya mulai ditemukan ada kematian ikan, agar segera berkoordinasi dengan petugas lapangan agar bisa dibantu dikumpulkan dan dikirim ke Pengotan,” ujarnya. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN