
SURABAYA, BALIPOST.com – Pemerintah mulai tancap gas mengurai kemacetan kronis di lintasan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk. Dalam pertemuan krusial di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (15/7), Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa merumuskan langkah strategis untuk memecah kepadatan yang kini tak lagi mengenal musim.
Salah satu solusi jangka pendek yang disiapkan untuk memecah antrean saat puncak arus adalah optimalisasi Pelabuhan Celukan Bawang di Bali Utara. Pelabuhan ini diproyeksikan menjadi jalur alternatif krusial guna mendistribusikan beban lalu lintas dari Gilimanuk, sehingga arus kendaraan, khususnya logistik, dapat terbagi dan tidak menumpuk di satu titik pintu masuk Bali.
“Kepadatan sekarang terjadi hampir setiap hari. Optimalisasi Celukan Bawang menjadi langkah darurat sekaligus taktis agar mobilitas masyarakat tidak terhambat saat lintasan utama mengalami overload,” ujar Menhub Dudy.
Peningkatan Kapasitas Dermaga
Tidak hanya solusi jangka pendek, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) kini fokus pada transformasi infrastruktur sebagai jawaban jangka panjang. Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, memastikan pihaknya tengah mengakselerasi peningkatan kapasitas dermaga di Ketapang dan Gilimanuk.
ASDP menargetkan penyelesaian pembangunan tiga pasang “movable bridge” (MB) pada Dermaga 1, 2, dan 3 dengan kapasitas angkut yang ditingkatkan hingga 50 ton. Proyek strategis ini dipastikan rampung secara bertahap hingga tahun 2029.
Peningkatan tonase ini menjadi kunci agar kapal-kapal berukuran lebih besar dapat bersandar dengan optimal, sehingga mempercepat proses bongkar-muat serta memangkas waktu tunggu pengguna jasa.
“Peningkatan kapasitas dermaga menjadi 50 ton ini adalah komitmen kami untuk memastikan lintasan Ketapang–Gilimanuk lebih andal dan mampu menjawab pertumbuhan mobilitas yang sangat dinamis,” tegas Heru.
Selain peningkatan infrastruktur, ASDP terus mendorong digitalisasi melalui aplikasi Ferizy untuk mengatur distribusi kedatangan kendaraan. Langkah ini diyakini mampu menekan penumpukan kendaraan di area pelabuhan, sembari memastikan kenyamanan para pelaku perjalanan dan kelancaran logistik nasional tetap terjaga. (Surya Dharma/balipost)










