Menteri Lingkungan Hidup / Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI, Moh Jumhur Hidayat saat peresmian pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bali di Pesanggaran, Denpasar, Rabu (8/7).(BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Indonesia dimulai dari Bali yang ditandai dengan peletakan batu pertama atau ground breaking yang berlangsung pada Rabu (8/7). Dengan pembangunan PSEL ini akan membantu 70 kabupaten/kota di Indonesia dalam penyelesaian sampahnya.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Lingkungan Hidup (LH), Mohammad Jumhur Hidayat pada peresmian PSEL yang berlangsung di Pesanggaran, Denpasar. Dikatakannya, PSEL ini minimal akan membantu 70 kabupaten/kota dalam penanganan sampahnya. Namun demikian ada 480 dari 550 kabupaten/kota di Indonesia yang belum tertangani sampahnya oleh PSEL.

Baca juga:  Citra Pariwisata Terancam, Bali Butuh Solusi Cepat Atasi Banjir dan Sampah

Dengan itu, pengelolaan sampah masih akan menjadi beban dan tanggung jawab pemerintah daerah termasuk Kementerian LH. “Saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak terkait yang sudah membantu (pembangunan PSEL) untuk mengurus sampah minimal di 70 kabupaten/kota,” katanya.

Pengelolaan sampah menjadi energi atau waste to energy (WTE) di beberapa tempat tidak semata-mata untuk listrik, tapi untuk energi lainnya. Seperti RDF dan lainnya yang mungkin lebih tinggi dari batubara. Hal itu bisa banyak dan bisa dikolaborasikan dengan Danantara. Pihaknya pun membuka kesempatan bagi siapa yang berminat untuk masuk dalam ekonomi silkular tersebut.

Baca juga:  Sampah Kiriman Picu Banjir di Sesetan

Meski demikian pihaknya menekankan pada penyelesaian pengelolaan sampah, terkait energi yang dihasilkan menjadi bonus. “Tujuan utamanya itu persoalan sampah itu selesai,” imbuhnya. (Widiastuti/balipost)

 

BAGIKAN